1. PENGERTIAN ILMU
Ilmu menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia(Depdikbud 1988) memiliki dua pengertian, yaitu: Ilmu diartikan
sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem
menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan
gejala-gejala tertentu di bidang(pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum,
ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, dan sebagainya. Ilmu diartikan sebagai
pengetahuan atau kepandaian, tentang soal duniawi, akhirat, lahir batin, dan
sebagainya, seperti ilmu akhirat, lahir, batin, dan sebagainya.
Berbeda dengan pengetahuan,
ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab
sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu
dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak
terpengaruh paradigm ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
- Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
- Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
- Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
- Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180ยบ. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
2. PENGERTIAN
PENGETAHUAN
Pengetahuan pada hakikatnya
merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu, termasuk
ke dalamnya adalah ilmu. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui
manusia disamping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan
agama.Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental. Tiap jenis pengetahuan
pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yang diajukan. Secara
Ontologis ilmu membatasi diri pada kajian obyek yang berada dalam lingkup
pengalaman manusia, sedangkan agama memasuki daerah penjelajahan yang bersifat
trasendental yang berada di luar pengalaman kita.Cara menyusun pengetahuan
dalam kajian filsafati disebut epistemologi, dan landasan epistemologi
ilmu disebut metode ilmiah. Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang
spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk
apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun.
Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu
dengan tujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapi
manusia. Pemecahan tersebut pada dasarnya adalah dengan meramalkan dan
mengontrol gejala alam. Untuk bisa meramalkan dan mengontrol sesuatu, maka kita
harus menguasai pengetahuan yang menjelaskan peristiwa itu.Pengetahuan itu
merupakan pengetahuan awam apabila orang hanya sadar saja tentang adanya gejala
tersebut; dia dapat mengetahui bahwa gejala itu ada. Selanjutnya, dari banyak
gejala yang disadarinya sebagai pengetahuan awam tersebut, dapat juga olehnya
dirasakan atau dilihat hal lain, yaitu hubungan saling pengaruh yang ada antara
satu gejala dengan gejala lainnya. Sebagai contoh, pengalaman atau pengamatan
bahwa, bila mendung biasanya lalu hujan. Pengetahuan tentang hubungan dua
gejala tersebut juga merupakan pengetahuan awam, walaupun pada tingkat yang
lebih tinggi. Pengetahuan orang tentang suatu gejala merupakan pengetahuan
ilmiah apabila dia dapat menjelaskan secara logis struktur dari gejala itu,
jadi tidak hanya sadar tentang adanya gejala itu.
3. RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu merupakan bagian dari
epistemology (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu
(pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan
cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara
metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmuilmu
sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka
filsafat ilmu sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat
ilmu-ilmu sosial.Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab
beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti:
1.
Ontologi
Obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang
hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya
tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan
pengetahuan?
2.
Epistemologi
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya
pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus
diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut
kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu
kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3.
Aksiologi
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu
dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan
kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan
pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan
operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?
4. PROBLEM
RASIONALISASI ILMU PENGETAHUAN
Filsafat ilmu lebih mengedepankan
penggalian ontologis dalam melakukan rasionalisasi, sehingga pembenaran
terhadap pengetahuan dicirikan oleh pendekatan logika. Oleh karena itu,
problematika pertama dalam filsafat ilmu terletak pada penerapan logika.Penulis
menjelaskan masalah utama pada sub-bab ini yaitu ketajaman logika perlu
terus-menurus diasah, karena belajar filsafat bukan sekedar membaca buku
filsafat, menghafal pikiran-pikiran para filosof, mengetahui berbagai aliran
dalam filsafat. Yang paling utama adalah bagaimana menjadikan filsafat sebagai
metode berfikir, sebagai alat utama dalam menggali hakikat dan seluk-beluk
kebenaran suatu pengetahuan. Menambah ketajaman berfikis logis, sistematis,
kontemplatif dan radikal.Pada sub-bab ini juga dijelaskan bahwa pikiran manusia
pada hakikatnya mencari dan berusaha untuk memperoleh kebenaran. Menurut Alex
Lanur OFM (1989: 3-7) pikiran tersebut merupakan suatu proses, dalam proses itu
haruslah diperhatikan kebenaran formalnya untuk berfikir logis. Kebenaran itu
hanyalah menyatakan serta mengendalikan adalanya jalan, cara, teknik serta
hukum-hukum yang perlu diikuti. Semuanya dirumuskan oleh hukum-hukum berfikir,
yakni logika.
Penulis menjelaskan
bahwa berfikir adalah objek material logika, yang dimaksud dengan berfikir
adalah kegiatan pikiran, akal budi manusia, dengan berfikir manusia mengolah
dan mengerjakannya untuk mendapatkan kebenaran.Pada sub-bab ini juga dituliskan
tiga unsur dalam logika merupakan tiga pokok kegiatan akal budi. Ketiga pokok
kegiatan tersebut secara sistematis berkaitan dengan hal-hal berikut:
a.
Menangkap sesuatu sebagaimana
adanya.
b.
Memberikan keputusan.
c.
Merundingkannya.
Kebenaran dalam logika dibagi dua,
yaitu kebenaran bentuk dan kebenaran isi. Dengan kata lain ada kebenaran formal
dan kebenaran materiil. Penulis menerangkan kebenaran formal atau kebenaran
logika tradisionaldisebut juga dengan istilah sillogisme, sedangkan logika materiil membicarakan kebenaran isi
dari pengatian dan keputusan-keputusan. Sesuai dengan pendapat Juhaya S. Pradja
(1997: 27) bahwa logika formal membicarakan ketepatan kesimpulan, logika
materiil membuktikan (menguji) isi keputusan. Suatu pengetahuan dikatakan benar
jika antara teori dan reaitasnya berhubungan.Dalam sub-bab pafagraf terakhir
dijelaskan bahwa dalam logika, penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara,
yaitu induksi dan deduksi. Sesuai dengan pendapat Jujun Suriasumantri (1990:
46) mendefinisikan logika sebagai ilmu untuk menarik kesimpulan. Adapun metode
penarikan kesimpulan ada dua macam yaitu metode induksi dan deduksi.
5. PROBLEM
RASIO DALAM FILSAFAT
Penulis menjelaskan rasio artinya
akal pikiran, rasio merupakan salah satu sumber pengetahuan yang kedudukannya
sangat penting dalam melegitimasi keberadaan pengetahuan. Penulis menulis bahwa
problem kedua dari filsafat ilmu adalah rasio, karena rasio terus-menerus
membutuhkan pengembangan dengan berbagaipelatihan berpikir. Adapun problem
yang Penulis tulis pada buku ini yaitu
pertama dari rasio adalah terjadinya pencemaran rasio itu sendiri, masalah
berikutnya dalam rasio adalah kebebasannya yang terjebak oleh potensi absolut
yang menakini bahwa semua pengetahuan berasal dari rasio.
Rasio memiliki masalah dengan
pengalaman, kinerja rasio yang tidak dibantu oleh pengalaman biasanya akan
mendatangkan kesulitan dalam menarik kesimpulan yang ilmiah. Akan tetapi,
meskipun tanpa bantuan pengalaman, rasio memiliki kemampuan menarik kesimpulan
yang logis, artinya kesimpulan yang dibentuk oleh pengartian dan keputusan yang
tepat dan akurat. Ketajaman rasio dipengaruhi pula oleh kedalaman pengetahuan
seseorang. Pendidikan dan pengalaman cukup signifikan dalam menentukan
ketajaman rasio manusia.
6. ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN
Ilmu secara nyata dan khas adalah
suatu kegiatan manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh
manusia. Berdasarkan hakikat ilmu yang telah dipaparkan sebelumnya, kegiatan
yang dinyatakan sebagai ilmu tidak bersifat tunggal, melainkan lebih dan saling
menjalin dan membentuk proses. Sebagai pembeda rangkaian aktivitas yang disebut
ilmu dengan serangkaian aktivitas biasa dapat dilihat dari sifat yang menyertai
tindakan tersebut. Serangkaian aktivitas dapat dikatakan sebagai ilmu ketika diterapkan
dengan prinsip.Menjadi serangkaian aktifitas yang bersifat kognitif
mengkonfirmasi bahwa ilmu dipraktikkan dengan kesadaran dan pengetahuan.
Meminjam teori dari Jean Peaget, Psikolog Swiss, tentang konsep kecerdasan yang
dalam hal ini berinterpretasi pada sifat kognitif, ilmu yang bersifat kognitif
dapat dijabarkan sebagai aktivitas yang melakukan operasi logis dalam
representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Kognitif yang bertalian
dengan pengetahuan, pemahaman, dan tanggung jawab memperjelas kompleksitas
rangkaian aktivitas ini sehingga dapat dikatakan ilmu.
Sedangkan Ilmu pengetahuan itu ialah
hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistema mengenai
kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal
yang di selidikinya (alam, manusia dan juga agama) sejauh yang dapat di jangkau
daya pemikiran manusia yang dibantu pengindraannya, yang kebenarannya diuji
secara empiris, riset, dan eksperimental.Corak teleologis dalam ilmu, mengarah
pada tujuan tertentu karena para ilmuan dalam melakukan aktivitas ilmiah
mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani suatu tujuan tertentu
yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas
manusiawi yang bertujuan, dan tujuan tersebut sesuai dengan masing-masing
praktisi disiplin ilmu. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa
yang diharapkan oleh masing-masing ilmuan.Terutama sekali dalam proses
penelitian harus ada kata-kata kebenaran. dasar rasional, kognitif dan teleologis[1].
Dalam arti umum, teleologi merupakan
sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam
maupun dalam sejarah.Maka, berdasarkan konsep di atas, jelaslah bahwa dengan
kata teologi pada serangkaian aktivitas tersebut menggagaskan bahwa ilmu
merupakan serangkaian aktivitas manusiawi yang memiliki tujuan tertentu. Tujuan
apakah itu, akan tergantung dari setiap aplikan ilmu..
Filsafat pada hakikatnya
mempersoalkan hidup dan kehidupan manusia di dunia, misalnya apa arti hidup
itu? Apa tujuan hidup itu? Apa ada kehidupan sebelum dan sesudah mati? Kodrat
manusia selalu ingin tahu. Dorongan ingin tahu, dimanifestasikan melalui
observasi, penelaahan dan penyelidikan-penyelidikan alam sekitarnya sesuai
dengan kapasitas dan perkembangan alam pikirannya. Semakin tinggi tingkat
kecerdasan individu atau kelompok manusia, semakin banyak rasa ingin tahunya
dan semakin banyak pula persoalan-persoalan dan tantangan-tantangan dalam
kehidupan.
Untuk menjawab bermacam-macam
persoalan dan tantangan dalam kehidupan ini, lahirlah bermacam-macam cabang
ilmu pengetahuan seperti di atas.Dari berbabgai ilmu pengetahuan yang berinduk
dari filsafat termasuk pada garis besarnya dapat di kelompok kan menjadi 3
kelompok besar, yaitu:
1. Ilmu-ilmu alamiah (natural
sciences), yang meliputi fisika, kimia, astronomi, biologi,botani dan
sebagainya.
2. Ilmu- ilmu sosial (social sciences),
yang terdiri dari: sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, politik,sejarah,
hukum dan sebagainya.
3. Ilmu-ilmu budaya (humanities) yang
terdiri dari: cinta kasih, agama,ilmu, budaya, kesenian, bahasa, kesusasteraan
dan sebagainya.
7. ILMU SEBAGAI METODE ILMIAH
Penelitian sebagai suatu rangkaian
aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah
tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia
keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan itu seringkali
dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).Metode ilmiah merupakan
prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan
cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan
yang ada. Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan,
analisis, deskripsi, penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai.Oleh
karena ilmu merupakan suatu aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai
kaidah pemikiran yang logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat erat
dengan logika. Dengan demkikian, prosedur-prosedur yang tergolong metode logis
termasuk pula dalam ruang lingkup metode ilmiah. Ini misalnya ialah deduksi,
abstraksi, penalaran analogis, analisis logis.Selanjutnya, metode ilmiah
meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib. Dalam kepustakaan metodologi ilmu
tidak ada kesatuan pendapat mengenai jumlah, bentuk, dan urutan langkah yang
pasti.
1)
Sheldon J. Lachman mengurai metode ilmiah menjadi 6
langkah yang berikut : Perumusan pangkal-pangkal duga yang khusus atau
pernyataan-pernyataan yang khusus untuk penyelidikan.
2)
Perancangan penyelidikan itu
3)
Pengumpulan data.
4)
Penggolongan data.
5)
Pengembangan generalisasi-generalisasi.
6)
Pemeriksaan kebenaran terhadap hasil-hasil, yaitu
terhadap data dan generalisasi-genralisasi.
George Abell merumuskan metode ilmiah
sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu yang mencakup 3 langkah berikut: 1)
Pengamatan gejala-gejala atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan. 2)
Perumusan pangkal-pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala ini, dan yang
bersesuaian dengan kumpulan pengetahuan yang ada. 3) Pengujian pangkal-pangkal
duga ini dengan mencatat apakah mereka secara memadai meramalkan dan melukiskan
gejala-gejala baru atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan yang baru.
Metode ilmiah lain dikemukakan oleh
J. Eigelberner yang mencakup 5 langkah sebagai berikut: 1) Analisis masalah
untuk menetapkan apa yang dicari, dan penyusunan pangkal-pangkal duga yang
dapat dipakai untuk memberi bentuk dan arah pada telaah penelitian. 2) Pengumpulan
fakta-fakta yang bersangkutan. 3) Penggolongan dan pengaturan data agar supaya
menemukan kesamaan-kesamaan, uruttan-urutan, dan hubungan-hubungan yang ada. 4)
Perumusan kesimpulan-kesimpulan dengan memakai proses-proses penyimpulan yang
logis dan penalaran. 5) Pengujian dan pemeriksaan kebenaran
kesimpulan-kesimpulan itu.
Walaupun pendapat para ahli mengenai
metode ilmiah dirumuskan secara berbeda-beda, ada 4 – 5 langkah yang merupakan
pola umum yang senantiasa dilaksanakan dalam penelitian. Langkah-langkah baku
itu ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis atau pangkal duga bila
dianggap perlu, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan pengujian atau
verifikasi hasil.Tata langkah tersebut di muka melibatkan berbagai konsep dalam
metode ilmiah. Konsep adalah ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang
biasanya dibedakan dari pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus satu
per satu. Konsep merupakan alat yang penting untuk pemikiran utama dalam
penelitian ilmiah.
Pengertian metode tidak pula sama
dengan tehnik. Metode ilmiah adalah berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola
dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian ilmiah. Pola dan tata
langkah prosedural itu dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan tehnis
yang lebih terinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan tehnik. Jadi, tehnik
adalah sesuatu cara operasional tehnis yang seringkali bercorak rutin, mekanis,
atau spesialistis untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian.
Dari hal-hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa, kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang merupakan
ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang
mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam istilah dunia
keilmuan dikenal sebagai metode atau sering disebut metode ilmiah. Metode
merupakan ciri penentu yang kedua dan dengan demikian ilmu dapat pula dibahas,
dipahami, dan dijelaskan sebagai metode
8. ILMU SEBAGAI PENGETAHUAN SISTEMATIS
Pengertian ilmu memang paling mudah dipahami
sebagai pengetahuan. Di kalangan ilmuwan maupun para filsuf pada umumnya ada
kesepakatan bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan pengetahuan sistematis. Demikian
lazim perumusan itu sehingga pengertian ilmu sebagia aktifitas dan sebagai
metode tampak terselubungi dan kurang dikenal. Namun, pemahaman yang terlengkap
hanyalah bilamana ilmu ditelaah sebagai aktifitas, metode, dan pengetahuan
secara utuh. Penelahaan ini dapat saja dimulai dari salah satu dari antara
ketiga segi itu. Tetapi, urutan yang kiranya sudah tepat dan memudahkan
pemahaman ialah bilamana dimulai sebagai aktifitas, aktifitas itu mempergunakan
metode tertentu, dan terakhir aktivitas dengan metode itu mendatangkan hasil
berupa pengetahuan.
Secara sederhana pengetahuan pada dasarnya adalah
keseluruhan keterangan dan ide yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang
dibuat mengenai sesuatu gejala/peristiwa baik yang bersifat alamiah, sosial
maupun keorangan. Jadi, pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi
substantif yang terkadung dalam ilmu. Isi itu dalam istilah keilmuan disebut
fakta. Pengetahuan dapat dibedakan dan digolongkan dalam berbagai jenis menurut
sesuatu ukuran. Pengetahuan manusia dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu
pengetahuan mengenai fakta-fakta dan pengetahuan mengenai hubungan-hubungan
umum di antara fakta-fakta (Bertran Russell, 1956, hal. 439).
Ciri umum dari suatu ilmu yang membuatnya berbeda
dengan filsafat ialah ciri empiris. Kalau filsafat masih tetap merupakan
pemikiran reflektif yang coraknya sangat umum, kebalikannya ilmu-ilmu fisis,
biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu sosial telah merupakan rangkaian aktivitas
intelektual yang sifatnya empiris. Jadi, ciri empiris dari ilmu mengandung
pengertian bahwa pengetahuan yang diperoleh itu berdasarkan pengamatan atau
percobaan. Kalau ilmu berbeda dari filsafat berdasarkan ciri empiris itu, maka
ilmu berbeda dari pengetahuan biasa karena ciri sistematisnya. Ciri sistematis
berarti bahwa berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan
pengetahuan itu mempunyai hubungan-hubungan ketergantungan dan teratur. Selain
ciri-ciri empiris dan sistematis, masih ada 3 ciri pokok lainnya dari ilmu,
yaitu obyektif, analitis, dan verifikatif. Ilmu dikembangkan oleh manusia untuk
menemukan suatu nilai luhur dalam kehidupan manusia yang disebut kebenaran
ilmiah. Kebenaran ini berupa asas-asas yang berlaku umum atau kaidah-kaidah
universal. Dengan memiliki pengetahuan ilmiah dan mencapai kebenaran itu
manusia berharap dapat membuat ramalan tentang peristiwa mendatang dan
menerangkan atau menguasai alam sekelilingnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar