Rabu, 01 April 2020

RINGKASAN MATERI FILSAFAT ILMU



RINGKASAN MATERI FILSAFAT ILMU










Oleh:
I KETUT ANDIKA PRADNYANA
TEKNOLOGI PEMBELAJARAN










UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2020


1. PENGERTIAN ILMU
Ilmu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(Depdikbud 1988) memiliki dua pengertian, yaitu: Ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu di bidang(pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi, dan sebagainya. Ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian, tentang soal duniawi, akhirat, lahir batin, dan sebagainya, seperti ilmu akhirat, lahir, batin, dan sebagainya.
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigm ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
  1. Objektif. Ilmu  harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
  2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
  3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
  4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180ยบ. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu  alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

2. PENGERTIAN PENGETAHUAN
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu, termasuk ke dalamnya adalah ilmu. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui manusia disamping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama.Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental. Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yang diajukan. Secara Ontologis ilmu membatasi diri pada kajian obyek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia, sedangkan agama memasuki daerah penjelajahan yang bersifat trasendental yang berada di luar pengalaman kita.Cara menyusun pengetahuan dalam kajian filsafati disebut epistemologi, dan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah. Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi), dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun.
Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu dengan tujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapi manusia. Pemecahan tersebut pada dasarnya adalah dengan meramalkan dan mengontrol gejala alam. Untuk bisa meramalkan dan mengontrol sesuatu, maka kita harus menguasai pengetahuan yang menjelaskan peristiwa itu.Pengetahuan itu merupakan pengetahuan awam apabila orang hanya sadar saja tentang adanya gejala tersebut; dia dapat mengetahui bahwa gejala itu ada. Selanjutnya, dari banyak gejala yang disadarinya sebagai pengetahuan awam tersebut, dapat juga olehnya dirasakan atau dilihat hal lain, yaitu hubungan saling pengaruh yang ada antara satu gejala dengan gejala lainnya. Sebagai contoh, pengalaman atau pengamatan bahwa, bila mendung biasanya lalu hujan. Pengetahuan tentang hubungan dua gejala tersebut juga merupakan pengetahuan awam, walaupun pada tingkat yang lebih tinggi. Pengetahuan orang tentang suatu gejala merupakan pengetahuan ilmiah apabila dia dapat menjelaskan secara logis struktur dari gejala itu, jadi tidak hanya sadar tentang adanya gejala itu.

3. RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu­ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial.Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti:
1.      Ontologi
Obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan?
2.      Epistemologi
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
3.      Aksiologi
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?

4. PROBLEM RASIONALISASI  ILMU PENGETAHUAN
Filsafat ilmu lebih mengedepankan penggalian ontologis dalam melakukan rasionalisasi, sehingga pembenaran terhadap pengetahuan dicirikan oleh pendekatan logika. Oleh karena itu, problematika pertama dalam filsafat ilmu terletak pada penerapan logika.Penulis menjelaskan masalah utama pada sub-bab ini yaitu ketajaman logika perlu terus-menurus diasah, karena belajar filsafat bukan sekedar membaca buku filsafat, menghafal pikiran-pikiran para filosof, mengetahui berbagai aliran dalam filsafat. Yang paling utama adalah bagaimana menjadikan filsafat sebagai metode berfikir, sebagai alat utama dalam menggali hakikat dan seluk-beluk kebenaran suatu pengetahuan. Menambah ketajaman berfikis logis, sistematis, kontemplatif dan radikal.Pada sub-bab ini juga dijelaskan bahwa pikiran manusia pada hakikatnya mencari dan berusaha untuk memperoleh kebenaran. Menurut Alex Lanur OFM (1989: 3-7) pikiran tersebut merupakan suatu proses, dalam proses itu haruslah diperhatikan kebenaran formalnya untuk berfikir logis. Kebenaran itu hanyalah menyatakan serta mengendalikan adalanya jalan, cara, teknik serta hukum-hukum yang perlu diikuti. Semuanya dirumuskan oleh hukum-hukum berfikir, yakni logika.
Penulis menjelaskan bahwa berfikir adalah objek material logika, yang dimaksud dengan berfikir adalah kegiatan pikiran, akal budi manusia, dengan berfikir manusia mengolah dan mengerjakannya untuk mendapatkan kebenaran.Pada sub-bab ini juga dituliskan tiga unsur dalam logika merupakan tiga pokok kegiatan akal budi. Ketiga pokok kegiatan tersebut secara sistematis berkaitan dengan hal-hal berikut:
a.       Menangkap sesuatu sebagaimana adanya.
b.      Memberikan keputusan.
c.       Merundingkannya.
Kebenaran dalam logika dibagi dua, yaitu kebenaran bentuk dan kebenaran isi. Dengan kata lain ada kebenaran formal dan kebenaran materiil. Penulis menerangkan kebenaran formal atau kebenaran logika tradisionaldisebut juga dengan istilah sillogisme, sedangkan logika materiil membicarakan kebenaran isi dari pengatian dan keputusan-keputusan. Sesuai dengan pendapat Juhaya S. Pradja (1997: 27) bahwa logika formal membicarakan ketepatan kesimpulan, logika materiil membuktikan (menguji) isi keputusan. Suatu pengetahuan dikatakan benar jika antara teori dan reaitasnya berhubungan.Dalam sub-bab pafagraf terakhir dijelaskan bahwa dalam logika, penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara, yaitu induksi dan deduksi. Sesuai dengan pendapat Jujun Suriasumantri (1990: 46) mendefinisikan logika sebagai ilmu untuk menarik kesimpulan. Adapun metode penarikan kesimpulan ada dua macam yaitu metode induksi dan deduksi.

5. PROBLEM RASIO DALAM FILSAFAT
Penulis menjelaskan rasio artinya akal pikiran, rasio merupakan salah satu sumber pengetahuan yang kedudukannya sangat penting dalam melegitimasi keberadaan pengetahuan. Penulis menulis bahwa problem kedua dari filsafat ilmu adalah rasio, karena rasio terus-menerus membutuhkan pengembangan dengan berbagaipelatihan berpikir. Adapun problem yang  Penulis tulis pada buku ini yaitu pertama dari rasio adalah terjadinya pencemaran rasio itu sendiri, masalah berikutnya dalam rasio adalah kebebasannya yang terjebak oleh potensi absolut yang menakini bahwa semua pengetahuan berasal dari rasio.
Rasio memiliki masalah dengan pengalaman, kinerja rasio yang tidak dibantu oleh pengalaman biasanya akan mendatangkan kesulitan dalam menarik kesimpulan yang ilmiah. Akan tetapi, meskipun tanpa bantuan pengalaman, rasio memiliki kemampuan menarik kesimpulan yang logis, artinya kesimpulan yang dibentuk oleh pengartian dan keputusan yang tepat dan akurat. Ketajaman rasio dipengaruhi pula oleh kedalaman pengetahuan seseorang. Pendidikan dan pengalaman cukup signifikan dalam menentukan ketajaman rasio manusia.

6. ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN
Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu kegiatan manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Berdasarkan hakikat ilmu yang telah dipaparkan sebelumnya, kegiatan yang dinyatakan sebagai ilmu tidak bersifat tunggal, melainkan lebih dan saling menjalin dan membentuk proses. Sebagai pembeda rangkaian aktivitas yang disebut ilmu dengan serangkaian aktivitas biasa dapat dilihat dari sifat yang menyertai tindakan tersebut. Serangkaian aktivitas dapat dikatakan sebagai ilmu ketika diterapkan dengan prinsip.Menjadi serangkaian aktifitas yang bersifat kognitif mengkonfirmasi bahwa ilmu dipraktikkan dengan kesadaran dan pengetahuan. Meminjam teori dari Jean Peaget, Psikolog Swiss, tentang konsep kecerdasan yang dalam hal ini berinterpretasi pada sifat kognitif, ilmu yang bersifat kognitif dapat dijabarkan sebagai aktivitas yang melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Kognitif yang bertalian dengan pengetahuan, pemahaman, dan tanggung jawab memperjelas kompleksitas rangkaian aktivitas ini sehingga dapat dikatakan ilmu.
Sedangkan Ilmu pengetahuan itu ialah hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang di selidikinya (alam, manusia dan juga agama) sejauh yang dapat di jangkau daya pemikiran manusia yang dibantu pengindraannya, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset, dan eksperimental.Corak teleologis dalam ilmu, mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani suatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan, dan tujuan tersebut sesuai dengan masing-masing praktisi disiplin ilmu. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuan.Terutama sekali dalam proses penelitian harus ada kata-kata kebenaran. dasar rasional, kognitif dan teleologis[1].
Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah.Maka, berdasarkan konsep di atas, jelaslah bahwa dengan kata teologi pada serangkaian aktivitas tersebut menggagaskan bahwa ilmu merupakan serangkaian aktivitas manusiawi yang memiliki tujuan tertentu. Tujuan apakah itu, akan tergantung dari setiap aplikan ilmu..
  Filsafat pada hakikatnya mempersoalkan hidup dan kehidupan manusia di dunia, misalnya apa arti hidup itu? Apa tujuan hidup itu? Apa ada kehidupan sebelum dan sesudah mati? Kodrat manusia selalu ingin tahu. Dorongan ingin tahu, dimanifestasikan melalui observasi, penelaahan dan penyelidikan-penyelidikan alam sekitarnya sesuai dengan kapasitas dan perkembangan alam pikirannya. Semakin tinggi tingkat kecerdasan individu atau kelompok manusia, semakin banyak rasa ingin tahunya dan semakin banyak pula persoalan-persoalan dan tantangan-tantangan dalam kehidupan.
Untuk menjawab bermacam-macam persoalan dan tantangan dalam kehidupan ini, lahirlah bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan seperti di atas.Dari berbabgai ilmu pengetahuan yang berinduk dari filsafat termasuk pada garis besarnya dapat di kelompok kan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:
1.      Ilmu-ilmu alamiah (natural sciences), yang meliputi fisika, kimia, astronomi, biologi,botani dan sebagainya.
2.      Ilmu- ilmu sosial (social sciences), yang terdiri dari: sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, politik,sejarah, hukum dan sebagainya.
3.      Ilmu-ilmu budaya (humanities) yang terdiri dari: cinta kasih, agama,ilmu, budaya, kesenian, bahasa, kesusasteraan dan sebagainya.

7. ILMU SEBAGAI METODE ILMIAH
Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan itu seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada. Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan, analisis, deskripsi, penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai.Oleh karena ilmu merupakan suatu aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah pemikiran yang logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat erat dengan logika. Dengan demkikian, prosedur-prosedur yang tergolong metode logis termasuk pula dalam ruang lingkup metode ilmiah. Ini misalnya ialah deduksi, abstraksi, penalaran analogis, analisis logis.Selanjutnya, metode ilmiah meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib. Dalam kepustakaan metodologi ilmu tidak ada kesatuan pendapat mengenai jumlah, bentuk, dan urutan langkah yang pasti.
1)      Sheldon J. Lachman mengurai metode ilmiah menjadi 6 langkah yang berikut : Perumusan pangkal-pangkal duga yang khusus atau pernyataan-pernyataan yang khusus untuk penyelidikan.
2)      Perancangan penyelidikan itu
3)      Pengumpulan data.
4)      Penggolongan data.
5)      Pengembangan generalisasi-generalisasi.
6)      Pemeriksaan kebenaran terhadap hasil-hasil, yaitu terhadap data dan generalisasi-genralisasi.
George Abell merumuskan metode ilmiah sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu yang mencakup 3 langkah berikut: 1) Pengamatan gejala-gejala atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan. 2) Perumusan pangkal-pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala ini, dan yang bersesuaian dengan kumpulan pengetahuan yang ada. 3) Pengujian pangkal-pangkal duga ini dengan mencatat apakah mereka secara memadai meramalkan dan melukiskan gejala-gejala baru atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan yang baru.
Metode ilmiah lain dikemukakan oleh J. Eigelberner yang mencakup 5 langkah sebagai berikut: 1) Analisis masalah untuk menetapkan apa yang dicari, dan penyusunan pangkal-pangkal duga yang dapat dipakai untuk memberi bentuk dan arah pada telaah penelitian. 2) Pengumpulan fakta-fakta yang bersangkutan. 3) Penggolongan dan pengaturan data agar supaya menemukan kesamaan-kesamaan, uruttan-urutan, dan hubungan-hubungan yang ada. 4) Perumusan kesimpulan-kesimpulan dengan memakai proses-proses penyimpulan yang logis dan penalaran. 5) Pengujian dan pemeriksaan kebenaran kesimpulan-kesimpulan itu.
Walaupun pendapat para ahli mengenai metode ilmiah dirumuskan secara berbeda-beda, ada 4 – 5 langkah yang merupakan pola umum yang senantiasa dilaksanakan dalam penelitian. Langkah-langkah baku itu ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis atau pangkal duga bila dianggap perlu, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan pengujian atau verifikasi hasil.Tata langkah tersebut di muka melibatkan berbagai konsep dalam metode ilmiah. Konsep adalah ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang biasanya dibedakan dari pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus satu per satu. Konsep merupakan alat yang penting untuk pemikiran utama dalam penelitian ilmiah.
Pengertian metode tidak pula sama dengan tehnik. Metode ilmiah adalah berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian ilmiah. Pola dan tata langkah prosedural itu dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan tehnis yang lebih terinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan tehnik. Jadi, tehnik adalah sesuatu cara operasional tehnis yang seringkali bercorak rutin, mekanis, atau spesialistis untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian.
Dari hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang merupakan ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam istilah dunia keilmuan dikenal sebagai metode atau sering disebut metode ilmiah. Metode merupakan ciri penentu yang kedua dan dengan demikian ilmu dapat pula dibahas, dipahami, dan dijelaskan sebagai metode
8. ILMU SEBAGAI PENGETAHUAN SISTEMATIS
Pengertian ilmu memang paling mudah dipahami sebagai pengetahuan. Di kalangan ilmuwan maupun para filsuf pada umumnya ada kesepakatan bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan pengetahuan sistematis. Demikian lazim perumusan itu sehingga pengertian ilmu sebagia aktifitas dan sebagai metode tampak terselubungi dan kurang dikenal. Namun, pemahaman yang terlengkap hanyalah bilamana ilmu ditelaah sebagai aktifitas, metode, dan pengetahuan secara utuh. Penelahaan ini dapat saja dimulai dari salah satu dari antara ketiga segi itu. Tetapi, urutan yang kiranya sudah tepat dan memudahkan pemahaman ialah bilamana dimulai sebagai aktifitas, aktifitas itu mempergunakan metode tertentu, dan terakhir aktivitas dengan metode itu mendatangkan hasil berupa pengetahuan.
Secara sederhana pengetahuan pada dasarnya adalah keseluruhan keterangan dan ide yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat mengenai sesuatu gejala/peristiwa baik yang bersifat alamiah, sosial maupun keorangan. Jadi, pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkadung dalam ilmu. Isi itu dalam istilah keilmuan disebut fakta. Pengetahuan dapat dibedakan dan digolongkan dalam berbagai jenis menurut sesuatu ukuran. Pengetahuan manusia dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu pengetahuan mengenai fakta-fakta dan pengetahuan mengenai hubungan-hubungan umum di antara fakta-fakta (Bertran Russell, 1956, hal. 439).
Ciri umum dari suatu ilmu yang membuatnya berbeda dengan filsafat ialah ciri empiris. Kalau filsafat masih tetap merupakan pemikiran reflektif yang coraknya sangat umum, kebalikannya ilmu-ilmu fisis, biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu sosial telah merupakan rangkaian aktivitas intelektual yang sifatnya empiris. Jadi, ciri empiris dari ilmu mengandung pengertian bahwa pengetahuan yang diperoleh itu berdasarkan pengamatan atau percobaan. Kalau ilmu berbeda dari filsafat berdasarkan ciri empiris itu, maka ilmu berbeda dari pengetahuan biasa karena ciri sistematisnya. Ciri sistematis berarti bahwa berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan-hubungan ketergantungan dan teratur. Selain ciri-ciri empiris dan sistematis, masih ada 3 ciri pokok lainnya dari ilmu, yaitu obyektif, analitis, dan verifikatif. Ilmu dikembangkan oleh manusia untuk menemukan suatu nilai luhur dalam kehidupan manusia yang disebut kebenaran ilmiah. Kebenaran ini berupa asas-asas yang berlaku umum atau kaidah-kaidah universal. Dengan memiliki pengetahuan ilmiah dan mencapai kebenaran itu manusia berharap dapat membuat ramalan tentang peristiwa mendatang dan menerangkan atau menguasai alam sekelilingnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengajar Mahasiswa S1 Kebidanan

I explain about website and the use of website as personal branding doc. Andika Pradnyana (2025)