MAKALAH
FILSAFAT ILMU
IMPLIKASI
FILSAFAT KONSTRUKTIVISME DALAM TEKNOLOGI PEMBELAJRAN
OLEH
:
I
KETUT ANDIKA PRADNYANA
S2
TEKNOLGI PEMBELAJARAN
TEKNOLOGI
PEMBELAJARAN
UNIVERSITAS
PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2019
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan
kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “IMPLIKASI
FILSAFAT KONSTRUKTIVISME DALAM TEKNOLOGI PEMBELAJRAN”.Makalah ini disusun
dalam rangka tugas mata kuliah Filsafat Ilmu di Jurusan Teknologi Pembelajaran
Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa
memberikan karunia atas budi baik dari semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini.Penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa makalah ini
masih belum sempurna.Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan
kritik yang konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan makalah ini. Penulis
berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak dan bagi perkembangan
dunia pendidikan
Singaraja,
30November 2019
I Ketut Andika Pradnyana
DAFTAR
ISI
COVER................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR....................................................................................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.1
Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah....................................................................................... 2
1.3
Tujuan......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 4
2.1
Latar Belakang Aliran Filsafat
Konstruktivisme........................................ 4
BAB III PENUTUP............................................................................................ 14
3.1
Kesimpulan................................................................................................. 14
3.2
Saran........................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Usaha
mengembangkan manusia dan masyarakat yang memiliki kepekaan, mandiri,
bertanggungjawab, dapat mendidik dirinya sendiri sepanjang hayat, serta mampu
berkolaborasi dalam memecahkan masalah, diperlukan layanan pendidikan
yangmampu melihat kaitan antara ciri-ciri manusia tersebut, dengan
praktek-praktekpendidikan dan pembelajaran untuk mewujudkannya. Pengetahuan
tidak bisa ditransfer begitu saja,melainkan harus diinterpretasikansendiri oleh
masing-masing individu. Pengetahuan juga bukan merupakan sesuatu yangsudah ada,
melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Dalam proses itukeaktifan
seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya.Banyak peserta
didik yang salah menangkap apa yang diberikan oleh gurunya.Hal ini menunjukkan
bahwa pengetahuan tidak begitu saja dipindahkan, melainkan harusdikonstruksikan
sendiri oleh peserta didik tersebut. Peran guru dalam pembelajaran
bukanpemindahan pengetahuan, tetapi hanya sebagai fasilitator, yang menyediakan
stimulusbaik berupa strategi pembelajaran, bimbingan dan bantuan ketika peserta
didik,mengalami kesulitan belajar, ataupun menyediakan media dan materi
pembelajaran agarpeserta didik itu merasa termotivasi, tertarik untuk belajar
sehingga pembelajaranmenjadi bermakna dan ahirnya peserta didik tersebut mampu
mengkontruksi sendiri pengetahuaanya. Seorang guru perlu memperhatikan konsep
awal siswa sebelum pembelajaran.Jika tidak demikian, maka seorang pendidik
tidak akan berhasilkan menanamkan konsepyang benar, bahkan dapat memunculkan
sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajarbukan hanya untuk meneruskan
gagasan-gagasan pendidik pada siswa, melainkan sebagaiproses mengubah
konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana mungkinkonsepsi itu salah,
dan jika ternyata benar maka pendidik harus membantu siswa dalammengkonstruk
konsepsi tersebut biar lebih matang..
Dalam
proses pendidikan, aliran konstruktivisme menghendaki agar anak didik dapat
menggunakan kemampuannya secara konstruktif untukmenyesuaiakan diri
dengan tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi. Anak didik harus aktif
mengembangkan pengetahuan, bukan hanya menunggu arahan dan petunjuk dari guru
atau sesama siswa.Kreativitas dan keaktifan siswa membantu untuk berdiri
sendiri dalam kehidupan, aliran ini mengutamakan peran siswa dalam
berinisiatif.Sedangkan penerapan dalam proses belajar mengajar
aliran konstruktivisme memberikan keleluasaan pada siswa untuk aktif membangun
kebermaknaan sesuai dengan pemahaman yang telah mereka miliki, memerlukan
serangkaian kesadaran akan makna bahwa pengetahuan tidak bersifat obyektif atau
stabil, tetapi bersifat temporer atau selalu berkembang tergantung pada
persepsi subyektif individu dan individu yang berpengetahuan
menginterpretasikan serta mengkonstruksi suatu realisasi berdasarkan pengalaman
dan interaksinya dengan lingkungan. Pengetahuan berguna jika mampu memecahkan
persoalan yang ada.
Berdasarkan uraian diatas, melalui makalah ini penulis
merumuskan masalah mengenai apa yang dimaksud dengan konstruktivisme dan
bagaimana pembelajaran menurut konstruktivisme. Hal tersebut sangat perlu
dibahas karena bertujuan agar kita mengetahui apa yang dimaksud dengan
konstruktivisme dan bagaimana pembelajaran menurut konstruktivisme. Dengan
pemahaman yang cukup mengenai hal tersebut diatas, maka setiap individu akan
mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal.
1.2
RUMUSN
MASALAH
Dari latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut
1. Bagaimana latar belakang
perkembangan aliran filsafat konstruktivime dalam pendidikan?
2. Bagaimana implikasi aliran filsafat
konstruktivisme dalam praksis pendidikan?
3. Bagaimana analisis kritis mengenai
aliran filsafat konstruktivisme dalam pendidikan?
1.3
TUJUAN
1. Untuk menjelaskan perkembangan aliran filsafat
konstruktivime dalam pendidikan
2. Untuk menjelaskan implikasi aliran filsafat
konstruktivisme dalam praksis pendidikan
3. Untuk menjelaskan analisis kritis mengenai aliran
filsafat konstruktivisme
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
LATAR BELAKANG ALIRAN FILSAFAT KONSTRUKTIVISME
a.
Pengertian
Filsafat Pendidikan
Filsafat adalah
studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis
dan dijabarkan dalam konsep mendasar.Filsafat tidak didalami dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan
alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu
dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika.Filsafat pendidikan merupakan
aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971).Pendidikan membutuhkan
filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan
pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas,
lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun
fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains
pendidikan.
b.
Pengertian
Filsafat Konstruktivisme
Konstruktivisme
berasal dari kata konstruktiv dan isme.Konstruktiv berarti bersifat membina,
memperbaiki, dan membangun.Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia berarti
paham atau aliran.Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri (von
Glaserfeld dalam Pannen dkk, 2001:3). Pandangan konstruktivis dalam
pembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan
strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, sedangkan guru yang membimbing siswa ke tingkat
pengetahuan yang lebih tinggi (Slavin dalam Yusuf, 2003). Tran Vui juga
mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan
terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan
untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi
orang lain. Sedangkan menurut Martin.Et. Al (dalam Gerson Ratumanan, 2002)
mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif
mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar
sebelumnya dengan belajar baru. Selanjutnya, Wikipedia (2008:1) menurunkan
definisi ialah: “constructivism may be considered an epistemology ( a
philosophical framework or theory of learning ) which argues humans construct
meaning from current knowledge structures” artinya, konstruktivisme dapat
dipandang sebagai suatu epistimologi (kerangka filosofis atau teori belajar)
yang mengkaji manusia dalam membangun makna dari struktur pengetahuan terkini.
Konstruktivisme
merupakan paradigma alternatif yang muncul sebagai dampak dari revolusi ilmiah
yang teradi dalam beberapa dasawarsa terakhir (Kuhn dalam Pannen dkk. 2000:1). Pendekatan
konstruktivisme menjadi landasan terhadap berbagai seruan dan kecenderungan
yang muncul dalam dunia pembelajaran, seperti perlunya siswa berpartisipasi
aktif dalam proses pembelajaran, perlunya siswa mengembangkan kemampuan belajar
mandiri, perlunya siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya
sendiri, serta perlunya pengajar berperan menjadi fasilitator, mediator dan
manajer dari proses pembelajaran.Gagasan pokok aliran ini diawali oleh
Gimbatissta Vico, epistemology dari
Italia.Dialah cikal bakal konstruktivisme. Pada tahun 1970, Vico dalam De
Antiquissima Italorum Sapientia mengungkapkan filsafatnya dengan berkata,
“Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan” .Dia
menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti mengetahui bagaimana membuat
sesuatu.Bagi Vico pengetahuan lebih menekankan pada struktur konsep yang
dibentuk.Lain halnya dengan para empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan
itu harus menunjuk kepada kenyataan luar. Namun menurut banyak pengamat, Vico
tidak membuktikan teorinya (Suparno: 2008). Sekian lama gagasannya tidak
dikenal orang dan seakan hilang. Kemudian Jean Piagetlah yang mencoba
meneruskan estafet gagasan konstruktivisme, terutama dalam proses belajar.
Gagasan Piaget ini lebih cepat tersebar dan berkembang melebihi gagasan Vico.Untuk
menjawab bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan?Kaum konstruktivis
menyatakan bahwa kita dapat mengetahui sesuatu melalui indera kita. Dengan
berinteraksi terhadap obyek dan lingkungannya melalui proses melihat,
mendengar, menjamah, membau, merasakan dan lain-lainnya orang dapat mengetahui
sesuatu. Misalnya, dengan mengamati pasir, bermain dengan pasir, seorang anak
membentuk pengetahuannya akan pasir. Bagi kaum konstruktivis, pengetahuan itu
bukanlah suatu yang sudah pasti, tetapi merupakan suatu proses menjadi.
Misalnya, pengetahuan kita akan “anjing” mulai dibentuk sejak kita masih kecil
bertemu dengan anjing. Pengetahuan itu makin lengkap, disaat kita makin banyak
berinteraksi dengan anjing yang bermacam-macam.
Sedangkan
menurut von Glaserfeld, tokoh konstruktivisme di Amerika Serikat, pengetahuan
bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran seorang
guru ke pikiran siswa.Bahkan bila guru bermaksud untuk memindahkan konsep, ide,
dan pengertian kepada siswa, pemindahan itu harus diinterpretasikan dan
dibentuk oleh siswa sendiri. Tanpa keaktifan siswa dalam membentuk pengetahuan,
pengetahuan tidak akan terjadi (Bettencourt, 1989).Jadi manusia menkonstruksi
pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman
dan lingkungan mereka.Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu
dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan yang sesuai (Suparno,
2008:28).Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer
begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan
sendiri oleh tiap-tiap orang. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi tetapi
merupkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dan dalam proses itulah
keaktivan dan kesungguhan seseorang dalam mengejar ilmu akan sangat berperan.
Berbicara
tentang konstruktivisme juga tidak dapat lepas dari peran Piaget. J. Piaget
adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme dalam proses
belajar. Menurut Wadsworth (1989) dalam Suparno (2008), teori perkembangan
intelektual Piaget dipengaruhi oleh keahliannya dalam bidang biologi.Teori
pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif.Seperti setiap organisme
selalu beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat mempertahankan dan
memperkembangkan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia.Berhadapan
dengan pengalaman, tantangan, gejala dan skema pengetahuan yang telah dipunyai
seseorang ditantang untuk menanggapinya.Dan dalam menanggapi pengalaman-pengalaman
baru itu skema pengalaman seseorang dapat terbentuk lebih rinci, dapat pula
berubah total. Bagi Piaget, pengetahuan selalu memerlukan pengalaman, baik
pengalaman fisis maupun pengalaman mental.
Piaget
membedakan adanya tiga macam pengetahuan: pengetahuan fisis, matematis-logis,
dan sosial. Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis suatu
obyek atau kejadian seperti: bentuk, besar, kekasaran, berat, dan bagaimana
benda-benda itu berinteraksi. Pengetahuan fisis ini didapatkan dari abstraksi
langsung suatu obyek.Pengetahuan matematis-logis adalah pengetahuan yang
dibentuk dengan berpikir tentang pengalaman dengan suatu obyek atau kejadian
tertentu.Pengetahuan ini didapatkan dari abstraksi berdasarkan koordinasi,
relasi ataupun penggunaan obyek.Pengetahuan itu harus dibentuk dari perbuatan
berpikir seseorang terhadap benda itu.Jadi pengetahuannya tidak didapat
langsung dari abstraksi bendanya.Misalnya konsep bilangan.Pengetahuan sosial
adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan sosial yang secara
bersama menyetujui sesuatu. Pengetahuan ini dibentuk dari interaksi seseorang
dengan orang lain (Piaget, 1971 dalam Suparno, 1997). Pengetahuan ini muncul
dalam kebudayaan tertentu maka dapat berbeda antara kelompok yang satu dengan
yang lain.
Jadi bisa
disimpulkan bahwa konstruktivisme adalah salah satu aliran filsafat pengetahuan
yang berpendapat bahwa pengetahuan itu merupakan konstruksi (bentukan) dari
orang yang sedang belajar.Pengetahuan bukanlah kumpulan fakta-fakta tetapi merupakan
konstruksi kognitif seseorang terhadap obyek, pengalaman, maupun
lingkungannya.Pengetahuan bukanlah “sesuatu yang sudah ada di sana” dan kita
tinggal mengambilnya, tetapi merupakan suatu bentukan terus menerus dari orang
yang belajar dengan setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya pemahaman
yang baru (Piaget, 1971).Filsafat konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan
adalah hasil konstruksi manusia melalui interaksi dengan objek, fenomena
pengalaman dan lingkungan mereka.Konstruktivisme bertitik tolak dari
pembentukan pengetahuan, dan rekonstruksi pengetahuan adalah mengubah
pengetahuan yang dimiliki seseorang yang telah dibangun atau dikonstruk
sebelumnya dan perubahan itu sebagai akibat dari interaksi dengan
lingkungannya.
2.2
ALIRAN FILSAFAT KONSTRUKTIVISME DALAM PRAKSIS
PENDIDIKAN
a.
Implikasi
Konstruktivisme Terhadap Proses Pembelajaran
Ada sejumlah
implikasi yang relevan terhadap proses pembelajaran berdasarkan pemikiran
konstruktivisme personal dan sosial. Implikasi itu antara lain sebagai berikut:
1. Kaum
konstruktivis personal berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh melalui
konstruksi individual dengan melakukan pemaknaan terhadap realitas yang
dihadapi dan bukan lewat akumulasi informasi. Implikasinya dalam proses
pembelajaran adalah bahwa pendidik tidak dapat secara langsung memberikan
informasi, melainkan proses belajar hanya akan terjadi bila peserta didik
berhadapan langsung dengan realitas atau objek tertentu. Pengetahuan diperoleh
oleh peserta didik atas dasar proses transformasi struktur kognitif tersebut.
Dengan demikian tugas pendidik dalam proses pembelajaran adalah menyediakan
objek pengetahuan secara konkret, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai
dengan pengalaman peserta didik atau memberikan pengalaman-pengalaman hidup
konkret (nilai-nilai, tingkah laku, sikap) untuk dijadikan objek pemaknaan.
2. Kaum
konstruktivis berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk dalam diri individu atas
dasar struktur kognitif yang telah dimilikinya, hal ini berimplikasi pada
proses belajar yang menekankan aktivitas personal peserta didik. Agar proses
belajar dapat berjalan lancar maka pendidik dituntut untuk mengenali secara
cermat tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Atas dasar pemahamannya
pendidik merancang pengalaman belajar yang dapat merangsang struktur kognitif
anak untuk berpikir, berinteraksi membentuk pengetahuan yang baru. Pengalaman
yang disajikan tidak boleh terlalu jauh dari pengetahuan peserta didik tetapi
juga jangan sama seperti yang telah dimilikinya. Pengalaman sedapat mungkin
berada di ambang batas antara pengetahuan yang sudah diketahui dan pengetahuan
yang belum diketahui sebagai zone of proximal development of knowledge.
Terkait dengan
kedua hal di atas, maka dalam proses pembelajaran seorang pendidik harus
menciptakan pengalaman yang autentik dan alami secara sosial kultural untuk
para peserta didiknya. Materi pembelajaran sungguh harus kontekstual, relevan
dan diambil dari pengalaman sosio budaya setempat.Pendidik tidak dapat
memaksakan suatu materi yang tidak terkait dengan kehidupan nyata peserta
didik. Pemaksaan hanya akan menimbulkan penolakan atau menimbulkan kebosanan
atau akan menghambat proses perkembangan pengetahuan peserta didik.
Bagi kaum konstruktivis, belajar
adalah proses mengkonstruksi pengetahuan. Proses konstruksi itu dilakukan
secara pribadi dan sosial. Proses ini adalah proses aktif, sedangkan mengajar
bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan
yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti
partisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari
kejelasan, dan bersikap kritis.Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar
sendiri. Penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran akan membawa
implikasi sebagi berikut:
1. Isi
Pembelajaran
Dalam
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme, guru tidak dapat
menentukan secara spesifik isi atau bahan yang harus dipelajari oleh siswa,
tetapi hanya sebatas memberikan rambu-rambu bahan pembelajaran yang sifatnya
umum. Proses penyajian dimulai dari
keseluruhan ke bagian-bagian, bukan sebaliknya. Mengingat aliran
konstruktivisme lebih mengutamakan pemahaman terhadap konsep-konsep besar, maka
konsep tersebut disajikan dalam konteksnya yang actual yang kadang-kadang
kompleks. Siswa perlu didorong agar ia tidak takut pada hal-hal yang komplek.
Siswa perlu memahami bahwa hal-hal yang kompleks akan memberikan tantangan
untuk diketahui dan dipahami.
Dalam belajar
secara konstruktivis, siswa harus membentuk pengertian dari berbagai sudut
pandang, maka dalam proses belajarnya tidak bisa dipisahkan dengan dunia riil
dan informasi dari berbagai sumber. Di kelas siswa harus dimotivasi untuk
mencari sudut pandang baru dan mempertimbangkan sumber data alternatif.
2. Tujuan
Pembelajaran
Tugas guru dalam
pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme adalah membantu siswa untuk
membangun pengetahuannya sendiri melalui proses internalisasi, pembentukan
kembali, dan transformasi informasi yang telah diperolehnya menjadi pengetahuan
baru. Transformasi terjadi kalau ada pemahaman (understanding), sedangkan
pemahaman terjadi sebagai akibat terbentuknya struktur kognitif baru dalam
pikiran siswa. Pemahaman terjadi kalau terjadi proses akomodasi atau perubahan
paradigma dalam pikiran siswa. Berlandaskan teoritik, tujuan pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme adalah membangun pemahaman.
Pemahaman dinilai penting, karena pemahaman akan memberikan makna kepada apa
yang dipelajari. Karena itu tekanan belajar bukanlah untuk memperoleh atau
menemukan lebih banyak, akan tetapi yang lebih penting adalah memberikan
interpretasi melalui skema atau struktur kognitif yang berbeda.
3. Strategi
Pembelajaran
Tugas guru
adalah membantu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan
situasi konkrit, maka strategi pembelajaran yang digunakan perlu disesuaikan
dengan kebutuhan dan situasi siswa. Guru tidak dapat memastikan strategi yang
digunakan, yang dapat hanya sebatas tawaran dan saran. Dalam hal ini teknik dan
seni yang dimiliki guru ditantang untuk mengoptimalkan pembelajaran.
Pendekatan
konstruktivisme mementingkan pengembangan lingkungan belajar yang meningkatkan
pembentukan pengertian dari perspektif ganda, dan informasi yang efektif atau
kontrol eksternal yang teliti dari peristiwa-peristiwa siswa yang ketat,
dihindari sama sekali. Untuk maksud tersebut, guru perlu melakukan hal-hal
berikut: (1) menyajikan masalah-masalah aktual kepada siswa dalam konteks yang
sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, (2) pembelajaran distrukturkan di
sekitar konsep-konsep primer, (3) memberi dorongan kepada siswa untuk
mengajukan pertanyaan sendiri, (4) memberikan siswa untuk menemukan jawaban
dari pertanyaan sendiri, (5) memberanikan siswa mengemukakan pendapat dan
menghargai sudut pandangnya, (6) menantang siswa untuk mendapatkan pemahaman
yang mendalam, bukan sekedar menyelesaikan tugas, (7) menganjurkan siswa
bekerja dalam kelompok, (8) mendorong siswa untuk berani menerima tanggung
jawab, dan (9) menilai proses dan hasil belajar siswa dalam konteks
pembelajaran.
4. Penataan
Lingkungan Belajar
Penataan
lingkungan belajar berdasar pendekatan konstruktivistik diidentifikasikan
dengan alternatif sebagai berikut; (1) menyediakan pengalaman belajar melalui
proses pembentukan pengetahuan dimana siswa ikut menentukan topik/sub topik
yang mereka sikapi, metode pembelajaran beriku tstrategi pembelajaran yang
dipergunakan, (2) menyediakan pengalaman
belajar yang kaya akan alternatif seperti peninjauan masalah dari
berbagai segi, (3) mengintegrasikan proses belajar dengan konteks yang nyata
dan relevan dengan harapan siswa dapat menerapkan pengetahuan yang didapat
dalam hidup sehari-hari, (4) memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan
isi dan arah belajar mereka dengan menempatkan guru sebagai konsultan, (5)
peningkatan interaksi antara guru dengan siswa dan antar siswa sendiri, (6)
meningkatkan penggunaan berbagai sumber belajar disamping komunikasi tertulis
dan lisan, (7) meningkatkan kesadaran siswa dalam proses pembentukan
pengetahuan mereka agar siswa mampu menjelaskan mengapa/bagaimana mereka
memecahkan masalah dengan cara tertentu.
5. Hubungan
Guru-Siswa
Dalam aliran
kostruktivisme, guru bukanlah seseorang yang mahatahu dan siswa bukanlah yang
belum tahu, karena itu harus diberi tahu. Dalam proses belajar, siswa aktif
mencari tahu dengan membentuk pengetahuannya, sedangkan guru membantu agar
pencarian itu berjalan baik. Dalam banyak hal guru dan siswa bersama-sama
membangun pengetahuan.Dalam hal ini hubungan guru dan siswa lebih sebagai mitra
yang bersamasama membangun pengetahuan.
Untuk mengidentifikasi sejumlah
karakteristik hubungan guru-siswa dalam pembelajaran dengan pendekatan
konstruktivistik berikut ini: (1) hubungan antara guru dengan siswa diupayakan
terjadi secara optimal, (2) pembelajaran perlu difokuskan pada kemampuan siswa
untuk menguasai konsep dan mengutarakan pandangannya, (3) evaluasi siswa
terintegrasi dalam proses belajar mengajar melalui observasi terhadap siswa
yang umumnya bekerja dalam kelompok, (4) aktivitas siswa lebih ditekankan pada
pengembangan generalisasi dan demonstrasi, (5) aktivitas pembelajaran relatif
tergantung pada isi yang menyebabkan siswa berpikir.
b.
Implikasi
konstruktivisme terhadap pendidik dan peserta didik
1. Pendidik
dalam proses pembelajaran harus mendorong terjadinya kegiatan kognitif tingkat
tinggi seperti mengklasifikasi, menganalisis, menginterpretasikan, memprediksi
dan menyimpulkan, dll.
2. Pendidik
merancang tugas yang mendorong peserta didik untuk mencari pemecahan masalah
secara individual dan kolektif sehingga meningkatkan kepercayaan diri yang
tinggi dalam mengembangkan pengetahuan dan rasa tanggungjaawab pribadi.
3. Dalam
proses pembelajaran, pendidik harus memberi peluang seluas-luasnya agar terjadi
proses dialogis antara sesama peserta didik, dan antara peserta didik dengan
pendidik, sehingga semua pihak merasa bertanggung jawab bahwa pembentukan
pengetahuan adalah tanggungjawab bersama. Caranya dengan memberi
pertanyaan-pertanyaan, tugas-tugas yang terkait dengan topik tertentu, yang
harus dipecahkan, didalami secara individual ataupun kolektif, kemudian diskusi
kelompok, menulis , dialog dan presentasi di depan teman yang lain.
Dapat kita jelaskan peranan antara pendidik dan
peserta didik menurut aliran konstruktivisme adalah sebagai berikut:
No.
|
Peranan Peserta Didik
|
Peranan Pendidik
|
1.
|
Berinisiatif mengemukakan masalah
dan pokok pikiran, kemudian menganalisis dan menjawabannya sendiri.
|
Mengutamakan peran siswa dalam
berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar.
|
2.
|
Bertanggung jawab sendiri terhadap
kegiatan belajarnya atau penyelesaian suatu masalah.
|
Memusatkan perhatian kepada proses
berpikir atau proses mental siswa, bukan kepada kebenaran jawaban siswa saja.
|
3.
|
Secara aktif bersama dengan teman
sekelasnya mendiskusikan penyelesaian masalah atau pokok pikiran yang mereka
munculkan, dan apabila dirasa perlu dapat menanyakannya kepada guru.
|
Guru perlu fleksibel dalam
merespons jawaban atau pemikiran siswa. Menghargai pemikiran siswa dan
meghindari perkataan “Ini satu-satunya jawaban benar”
|
4.
|
Atas inisiatif sendiri dan mandiri
berupaya memperoleh pemahaman yang mendalam (deep understanding) terhadap
suatu topik masalah belajar.
|
Guru perlu menyediakan pengalaman
belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sehingga
belajar sebagai proses konstruksi pengetahuan dapat terwujud.
|
5.
|
Secara aktif mengajukan dan
menggunakan berbagai hipotesis (kemungkinan jawaban) dalam memecahkan suatu
masalah.
|
Memaklumi akan adanya perbedaan
individual, termasuk dalam hal perkembangan kognitif siswa.
|
6.
|
Secara aktif mengajukan berbagai
data atau informasi pendukung dalam penyelesaian suatu masalah atau pokok
pikiran yang dimunculkan sendiri atau yang telah dimunculkan oleh teman
sekelas.
|
Guru perlu menyampaikan tujuan
pembelajaran dan apa yang akan dipelajari di awal kegiatan belajar. Hal ini
akan mempengaruhi keaktifan siswa, karena ia tahu apa yang akan di pelajari
dan untuk apa ia terlibat dalam pembelajaran.
|
7.
|
Secara kreatif dan imajinatif
mengaitkan antara gagasan yang telah dimiliki dengan informasi baru yang
diterima.
|
Guru perlu banyak berinteraksi
dengan siswa untuk dapat mengetahui apa yang telah mereka ketahui dan apa
yang mereka pikirkan.
|
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Filsafat
konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia
melalui interaksi dengan objek, fenomena pengalaman dan lingkungan
mereka.Konstruktivisme bertitik tolak dari pembentukan pengetahuan, dan
rekonstruksi pengetahuan adalah mengubah pengetahuan yang dimiliki seseorang
yang telah dibangun atau dikonstruk sebelumnya dan perubahan itu sebagai akibat
dari interaksi dengan lingkungannya.
Kaum
konstruktivis berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk dalam diri individu atas
dasar struktur kognitif yang telah dimilikinya, hal ini berimplikasi pada proses
belajar yang menekankan aktivitas personal peserta didik. Agar proses belajar
dapat berjalan lancar maka pendidik dituntut untuk mengenali secara cermat
tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Atas dasar pemahamannya pendidik
merancang pengalaman belajar yang dapat merangsang struktur kognitif anak untuk
berpikir, berinteraksi membentuk pengetahuan yang baru. Pengalaman yang
disajikan tidak boleh terlalu jauh dari pengetahuan peserta didik tetapi juga
jangan sama seperti yang telah dimilikinya. Pengalaman sedapat mungkin berada
di ambang batas antara pengetahuan yang sudah diketahui dan pengetahuan yang
belum diketahui sebagai zone of proximal development of knowledge.
Bagi aliran
konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu.Tidak
lagi sebagai satu-satunya sumber belajar.Namun guru lebih diposisikan sebagai
fasiltator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri (Hudojo, 1998:5-6).Aliran ini lebih menekankan bagaimana
siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar.
3.2
SARAN
Filsafat konstruktivisme harus dipahami sebagai roh yang
menggerakkan subyek-subyek pendidikan sehingga akan lahirlah inovasi-inovasi
baru dalam pendidikan dan pengajaran. Saran yang dapat penulis berikan
pada penulisan makalah ini adalah sebaiknya sistem pembelajaran yang diterapkan
mengacu pada pendekatan konstruktivisme karena dari karakteristik
pembelajarannya yang dapat memberikan sumbangan besar dalam membentuk manusia
yang kreatif, produktif, dan mandiri.
Guru, sebagai subjek
sentral dalam pendidikan harus memiliki wawasan baru dan luas dalam model-model
pembelajaran. Sekolah dan penyelenggaranya harus memiliki visi dan misi yang
jelas yang menjangkau masa depan, dan melengkapi dengan sarana prasarana yang
memadai sehingga peserta didik bisa berkembang secara optimal dan alamiah.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah,
A. Chaedar. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan.Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Mudyahardjo,
Redja. 2001. Pengantar Pendidikan. Bandung: PT RajaGrafindo
Persada
Sadulloh,
Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta.
Suparno,
P. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam
Pendidikan, Yogyakarta :
Penerbit Kanisius

Tidak ada komentar:
Posting Komentar