Senin, 30 Maret 2020

“Ayah Ku Pengetahuan Ku” Tak Mengeyam Pendidikan Namun Menyekolahkan Anaknya Hingga Perguruan Tinggi


Seperti kita ketahui keluarga adalah satu atau dua orang tua beserta anak anaknya yang hidup bersama, Keluarga juga merupakan lingkungan terdekat dari setiap individu, utamanya bagi seorang anak. Pengetahuan, pemahaman dan interaksi yang mereka dapatkan pertama kali adalah dari lingkungan keluarga, sekaligus seiring waktu yang akan mengiringi perkembangan mereka. Beberapa penelitian juga menegaskan akan pentingnya peran keluarga terhadap perkembangan jiwa anak serta keberhasilan pendidikan anak dengan berbagai kondisi anak itu sendiri. Beberapa aspek penting dari peran keluarga dalam pendidikan anak antara lain: Keharmonisan Orang Tua, Perhatian Orang Tua Terhadap Anak, Komunikasi yang Demokratis, dan aspek lainnya. Pada tulisan ini saya akan menceritakan kisah nyata perjuangan Orang Tua yang berada di sebuah pulau yang bersemangat dan bekerja keras demi kesuksesan anak-anaknya. Semoga kisah nyata yang saya ceritakan ini menjadi motivasi dan semangat untuk kalian agar terus berjuang membahagiakan orang tua kalian. 

Bagi orangtua, anak adalah segala-galanya. Berbagai upaya pasti akan dilakukan demi membahagiakan buah hatinya. Banyak jalan menuju Roma. Sepertinya ungkapan itu pantas disematkan bagi para orangtua yang bekerja banting tulang demi menyekolahkan anak setinggi-tingginya. “Jangan sampai anak saya bodoh seperti saya.” Keinginan itu menjadi semacam cambuk bagi orangtua yang menaruh harapan pada anak-anaknya agar tidak bernasib sama. Hal itulah yang dilakukan oleh pasangan suami istri I Wayan Sukla dan Ni Made Sugiri, warga Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Di tengah segala keterbatasan ekonomi, pasangan suami istri ini pantang menyerah dan terus memperjuangkan agar keempat anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi demi masa depan mereka. Bapak kelima orang anak yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan buruh serabutan mengakui bahwa tidak pernah mengeyam pendidikan. Ia pun tak ingin anak anak-anaknya kelak seperti dirinya. "Cita-cita saya ingin anak-anak bisa sekolah sampai tinggi. Jangan seperti saya, mereka harus lebih," ujar Wayan Sukla. Penghasilan sebagai petani dan buruh serabutan, menurutnya tidaklah besar, bahkan bisa dikatakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun demikian, Wayan Sukla enggan menyerah dengan keadaan. Bapak yang sering dipanggil Pak Asti ini pun harus membanting tulang untuk mencari tambahan penghasilan demi bisa membiayai sekolah keempat anaknya. Segala jenis pekerjaan diterimanya. Meski berat, namun semua itu dijalaninya dengan ikhlas. Sebab Pak Asti meyakini lewat pendidikan dapat menghantarkan keempat buah hatinya meraih cita-cita mereka dan memiliki kehidupan yang lebih baik. "Sebagai orang tua semua akan dilakukan demi anak. Saya akan usahakan supaya anak saya bisa sekolah sampai sarjana, untuk masa depan mereka, Yang saya yakini pendidikan bisa mengubah jalan hidup menjadi lebih baik, walaupun saya tidak pernah mengeyam pendidikan bahkan membaca pun saya tidak bisa, saya tidak ingin anak anak saya seperti saya, itulah yang menjadi pegangan saya untuk tetap bersemangat dalam bekerja" katanya. Dengan penghasilan yang pas-pasan bahkan dibilang sangat kurang apalagi untuk membiayai anak-anaknya dalam mengeyam pendidikan, Pak Asti memiliki banyak hutang. Bagaimana tidak nekat. Tahu kemampuan finansialnya gak bagus karena statusnya sebagai petani dan buruh serabutan, Pak Asti berutang untuk biaya kuliah anak anaknya. Sampai saat ini Pak Asti masih berutang di banyak tempat. Tutup lubang, gali lubang sudah biasa dilakukannya selama bertahun-tahun. Namun dia tidak merasa khawatir meski kadang dicemooh. Sampai-sampai tetangganya pada nyinyir. “Hidup aja susah kok nguliahin anak.” Namun karena sudah bertekad baja, Pak Asti dan istri tidak mau menyerah. Utang Pak Asti memang masih ada, tapi anak anaknya diharapkan bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik darinya. Itulah yang menjadi impiannya. Dia tidak mau anak-anaknya hidup susah seperti dia.

Pak Asti bersyukur keempat anaknya tidak pernah mengeluh dengan kondisi yang ada. Mereka anaknya juga bertanggung jawab akan studinya dengan rajin belajar supaya bisa segera menyelesaikan pendidikan. "Jujur, sederhana dan bertanggung jawab itu pesan yang selalu saya sampaikan ke mereka serta harus ingat kepada keadaan keluarga untuk menjadi alarm bagi mereka agar tetap hidup hemat, dan sederhana," tuturnya. Satu anaknya (Nyoman Astrawan) sudah menyelesaikan pendidikan di STIKOM Bali pada tahun 2008 dan sudah bekerja di salah satu perusahaan di Bali. Dan baru ini pada bulan Agustus 2019 anaknya yang ketiga (I Ketut Andika Pradnyana) menyelesaikan studi S1 Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja melalui program beasiswa pemerintah yaitu beasiswa Bidikmisi selama perkuliahan, dan pada saat ini sedang menempuh pendidikan lanjutan S2 di Universitas Pendidikan Ganesha dengan penerima beasiswa Rektor Undiksha. Tidak hanya itu dua anak perempuannya sedang menempuh pendidikan diantaranya (Ni Wayan Dian Yusmara Yanti) sedang menempuh pendidikan Sarjana di Universitas Pendidikan Ganesha dengan penerima beasiswa Bidikmisi dan (Ni Kadek Intan Lestari Dewi) masih  menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 Nusa Penida. Usaha dan kerja keras yang dilakukan selama puluhan tahun pun tidak sia-sia. Pak Asti kini dapat bernafas lega setelah menghantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan di perguruan tinggi. 

Bercermin dari kisah nyata di atas, pelajaran yang patut diambil adalah jangan pernah merasa malu atau minder akan profesi orangtua kita. Karena di balik itu semua, tersimpan sebuah harapan yang besar yang ditujukan semata-mata agar kita menghadapi masa depan yang cerah. Demi kebahagiaan dalam hidup, kesejahteraan keluarga bisa menjadi target utama karir seseorang. Bukan target ambisi pribadi. Toh, ketika target itu terpenuhi, kita ikut terkena dampak positifnya. Sebagai satu keluarga, susah-senang mestinya ditanggung bersama. Apalagi buat yang berstatus orang tua. Melihat anak hidup sejahtera adalah kebanggaan. Ambisi pribadi sebaiknya dikesampingkan demi masa depan cerah anak kelak. Dan sebagai anak tetap menjaga harga diri dan nama baik orang tua, karena kerja keras orang tua adalah harapan besar untuk kehidupan kalian yang lebih baik.

2 komentar:

Mengajar Mahasiswa S1 Kebidanan

I explain about website and the use of website as personal branding doc. Andika Pradnyana (2025)