MAKALAH PSIKOLOGI PEMELAJARAN
Oleh:
I KETUT ANDIKA PRADNYANA
TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2019
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Psikologi
perkembangan adalah cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari perkembangan
dan perubahan aspek kejiwaan manusia sejak dilahirkan sampai dengan lanjut usia.
Sebuah ilmu tidak muncul secara tiba-tiba atau begitu saja, namun ada
sejarahnya yang penuh pro dan kontra antar tokohnya.Objek psikologi perkembangan adalah
perkembangan manusia sebagai pribadi. Perkembangan pribadi manusia ini
berlangsung sejak konsepsi sampai mati. Perkembangan yang dimaksud adalah
proses tertentu yaitu proses yang terus menerus, dan proses yang menuju ke
depan dan tidak begitu saja dapat diulang kembali.Masa remaja adalah masa datangnya
pubertas 11-14 tahun sampai usia sekitar 18 tahun yang
merupakan masa
transisi dari kanak-kanak ke dewasa.Masa ini hampir selalu merupakan masa-masa
sulit bagi remaja maupun orang tuanya. Masa perkembangan itu merupakan suatu
tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu,yang
apabila tugas itu dapat berhasil di tuntaskan akan membawa kebahagiaan dan
kesuksesan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya, sementara apabila gagal,
maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan,
menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menyelesaikan
tugas-tugas berikutnya (Monks, 2003).
Permasalahan yang sering muncul
sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik tentang
berbagai tuntutan psikologi ini, sehingga perilaku mereka seringkali tidak
mampu mengarahkan remaja menuju perkembangan mereka. Bahkan tidak jarang orang
tua dan pendidik mengambil sikap yang tidak sejalan dari yang seharusnya diharapkan,sehingga
semakin mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut. Dengan demikian di
harapkan para orang tua dan pendidik dapat memberikan motivasi yang tepat untuk
mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya (Stice dan
Whitenton, 2002).
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang, maka dapat di rumuskan permasalahannya sebagai berikut:
1. Bagaimana
sejarah munculnya psikologi perkembangan?
2. Apa
saja prinsip-prinsip perkembangan?
3. Apa
saja tugas-tugas perkembangan?
1.3
Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui sejarah awal mula munculnya
psikologi perkembangan.
2.
Untuk mengetahui prinsip-prinsip perkembangan.
3.
Untuk mengetahui tugas-tugas perkembangan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Psikologi Perkembangan
Seorang
filosof Plato mengatakan bahwa perbedaan-perbedaan individual mempunyai dasar
genetis. Potensi idividu dikatakanya sudah ditentukan oleh faktor keturunan.
Artinya sejak lahir anak telah memiliki bakat-bakat atau benih-benih kemampuan
yang dapat dikembangan melalui pengasuhan dan pendidikan.Sekitar tahun 387 SM,
Plato mendirikan sekolah filsafat yang bernama Akademi. Ia dilahirkan
di Athena dan merupakan murid Socrates, seorang ahli filsafat yang sangat
terkenal pada zamannya. Plato berpendapat jiwa manusia terbagi atas jiwa
badaniah dan jiwa rohaniah. Jika jiwa badani akan gugur bersama-sama dengan
raga manusia, jiwa rohaniah tidak akan pernah berakhir, atau dengan kata lain
bersifat abadi.
Pada
zaman J.A. Comenius (1592-1671), para pendidik sudah mulai memperhatika
sifat-sifat khas yang dimiliki setiap anak. Comenius mengatakan bahwa anak
tidak boleh di anggap sebagai oarang dewasa yang bertubuh kecil. J.A. Comenius,
dilahirkan di Moravia, ketika berusia 26 tahun sudah menjadi guru. Dalam
bukunya, Didactica Magna, ia menganjurkan agar pengajran dapat menarik
perhatian anak. Oleh karena itu pelajaran harus diragakan supaya anak-anak
dapat mengamati, menyelidiki, dan mengalaminya sendiri. Dalam proses
mengajar-belajar aktivitas anak benar-benar diperhatikan, walaupun pada zaman
itu usaha-usaha untuk mempelajari jiwa anak belum sebaik keadaan yang sekarang.
Ia menganjurkan agar pendidikan yang diberikan disesuaikan dengan perkembangan
jiwa anak. Pelajaran didasarkan pada pengalaman, dimulai dari tingkat yang
mudah medah mengarah kepada tingkat yang lebih sulit. Selain sebagai pendidik
yang memperhatikan perkembangan jiwa anak, ia dikenal pula sebagai pendidik
sosial dan bapak pengajaran klasikal. Sesuatu yang diangggap penting dalam
pengembangan komunikasi dan interaksi adalah tingkat kepedulian masing-masing
terhadap optimalisasi tugas dan fungsi yang diembanya.Pada akhir abad ke-17,
seorang filosof Inggris kenamaan, John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa
pengalaman dan pendidikan merupakan faktor yang paling menentukan dalam
perkembangan anak. Ia tidak mengakui adanya kemapuan bawaan (innate
knowledge). Sebaliknya menurut Locke, isi kejiwaan anak ketika dilahirkan
adalah ibarat secarik kertas yang masih kosong, dimana bentuk dan corak kertas
tersebut nantinya sangat di tentukan oleh bagaimana corak itu ditulis. Dalam
hal ini Locke mengemukakan istilah “tabula rasa” (blank state) untuk
mengungkapkan pentingnya pengaruh pengalaman dan lingkungan hidup terhadap
perkembangan anak.
Pandangan-pandangan
John Locke kemudian ditentang oleh Jean Jacques Roussean (1712-1778), seorang
filosof perancis abad ke 18, yang berpandangan bahwa anak berbeda secara
kualitatif dengan orang dewasa. Ia sama sekali menolak pandangan bahwa bayi
adalah makhluk pasif, yang perkembangannya ditentukan oleh pengalaman. Ia juga
menolak anggapan bahwa anak merupakan orang dewasa yang tidak lengkap da
memperoleh pengetahuan melalui cara berfikir orang dewasa . sebaliknya, ia
beranggapan bahwa sejak lahir anak adalah makhluk aktif, dan suka bereksplorasi
2.2 Prinsip-Prinsip Perkembangan
1.
Perkembangan
Melibatkan Perubahan
Berkembang
berarti mengalami perubahan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Perubahan secara kuantitatif disebut juga pertumbuhan. Pada pertumbuhan ada
peningkatan ukuran maupun struktur atau proporsi tubuh. Perubahan secara
kualitatif ditandai dengan adanya perubahan fungsi yang bersifat progresif /
maju dan terarah . perubahan dalam perkembangan terjadi karena adanya dorongan
dalam diri individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk
merealisasikan / mengaktualisasikan dirinya. Selain itu terjadi perubahan dalam
bentuk penambahan ukuran dan proporsi, terjadi juga gejala hilangnya ciri-ciri
lama dan munculnya ciri-ciri baru.Contoh : kemampuan bahasa anak berubah dari
sekedar menangis hingga mampu berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain.
2. Perkembangan Awal Lebih Kritis daripada
Perkembangan Selanjutnya.
Saat anak
berusia 0 – 5 tahun merupakan saat yang kritis bagi perkembangan selanjutnya.
Perkembangan awal kehidupan merupakan landasan bagi pembentukan dasar – dasar
kepribadian seseorang. Prilaku yang terbentuk cenderung bertahan dan
mempengaruhi sikap prilaku anak sepanjang hidupnya. Beberapa kondisi yang
mempengaruhi dasar awal perkembangan antara lain : hubungan antarpribadi
terutama dengan anggota keluarga, keadaan emosi yang terbentuk karena sikap
menerima atau menolak dari orang tua atau anggota keluarga yang lain, cara atau
pola pengasuhan anak, latar belakang keluarga, serta rangsangan yang diberikan.
Sikap dan perilaku anak yang terbentuk pada tahun-tahun awal kehidupan
cenderung bertahan atau menetap dan mewarnai kepribadian dan sikap prilaku anak
dalam berinteraksi dengan diri dan lingkungan selanjutnya. Sikap dan perilaku
yang terbentuk agak sulit diubah, meskipun tidak berarti tidak dapat berubah
sama sekali. Akan tetapi, pengubahan sikap dan perilaku tersebut memerlukan
motivasi dan usaha keras dari orang yang bersangkutan untuk mau berubah dan
memperbaiki perilaku kebiasaan yang kurang baik.
3. Perkembangan Merupakan Hasil Proses
Kematangan dan Belajar.
Menurut teori
Konvergensi yang dikemukakan oleh Stern, perkembangan seseorang merupakan hasil
proses kematangan dan belajar. Menurut teori Naturalisme perkembangan seseorang
terutama ditentukan oleh faktor alam, bakat pembawaan, keturunan, termasuk
didalamnya kematangan seseorang. Sementara itu, teori Empirisme berpendapat
bahwa perkembangan seseorang terutama ditentukan oleh faktor lingkungan tempat
anak itu berada dan tumbuh – kembang, termasuk didalamnya lingkungan keluarga,
sekolah, dan belajar anak. Kedua faktor tersebut dapat dibedakan tetapi tidak
dapat dipisahkan dalam perkembangan seseorang. Contoh : perkembangan bakat atau
kemampuan seorang anak yang berbakat di bidang tari tidak akan optimal apabila
tidak mendapat kesempatan belajar tari. Dukungan itu diantaranya dengan
penyediaan sarana prasarana serta kesempatan untuk belajar dan mengembangkan
potensi dirinya.
4. Perkembangan Mengikuti Pola Tertentu
yang Dapat diramalkan.
Perubahan
akibat perkembangan yang terjadi pada seseorang mengikuti pola urut tertentu
yang sama. Perkembangan fisik dan psikis bayi, misalnya mengikuti arah anggota
tubuh. Serta menyebar keseluruh tubuh. Demikian juga pada perkembangan pola
anak belajar berjalan. Sebelumnya, anak mampu duduk lebih dahulu, berdiri, baru
dapat berjalan. Urutan pola ini tetap pada setiap anak, hanya berbeda dalam
kecepatan yang dibutuhkan setiap anak.Tempo perkembangan adalah waktu yang
dibutuhkan seseorang untuk mengembangkan aspek tertentu pada dirinya. Irama
perkembangan adalah naik turunnya gejala yang tampak akibat perkembangan aspek
tertentu. Pada periode perkembangan sekurangnya ada 2 periode. Pertama, pada
masa krisis atau menentang pertama ( 2 sampai 3 tahun ) dimana kemauan anak
mulai berkembang dan ingin mandiri. Kedua, pada masa kritis ( 14 sampai 17
tahun ) anak ingin melepaskan diri dari orang tua dan mencari sampai menemukan
jati dirinya sebagai manusia dewasa.
5. Pola Perkembangan Memiliki
Karakteristik Tertentu.
Pola
perkembangan, selain mengikuti pola tertentu yang dapat diramalkan, juga
terdapat pola-pola perkembangan karakteristik tertentu. Perkembangan bergerak
dari tanggapan yang umum menuju yang lebih khusus.Perkembangan pun berlangsung secara
berkesinambungan. Hal ini berarti, perkembangan aspek sebelumnya akan
mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Demikian pula ada korelasi dalam
perkembangan, artinya pada waktu perkembangan fisik berlangsung dengan cepat
maka terjadi pula perkembangan aspek- aspek lainnya. Kondisi yang mempengaruhi
pola perkembangan ada yang bersifat permanen/ tetap seperti sebelum dan saat
kelahiran. Tetapi ada pula yang bersifat temporer seperti kondisi lingkungan.
6. Terdapat Perbedaan Individu dalam
Perkembangan.
Dalam
perkembangan seseorang selain terdapat pola-pola umum yang sama terdapat pula perbedaan pada
hal-hal yang khusus. Adanya perbedaan individu dalam perkembangan disebabkan
setiap anak adalah individu yang unik, yang satu sama lain berbeda, kendati
anak kembar. Perbedaan individu ini disebabkan oleh factor internal seperti sex
atau jenis kelamin, factor keturunan, juga factor eksternal seperti factor
gizi, pengaruh sosial budaya, dll. Perbedaan perkembangan juga terjadi dalam
kecepatan dan cara berkembang.Dengan mengetahui adanya perbedaan individu, maka
kita tidak dapat berharap semua anak pada usia tertentu akan memiliki kemapuan
perkembangan yang sama. Oleh karena itu, kita tidak dapat memperlakukan semua
anak dengan cara yang sama. Pendidikan anak harus bersifat perseorangan,
maksudnya pendidikan dirancang dan dilaksanakan dengan memperhatikan perbedaan,
kondisi, bakat dan kemampuan serta kelemahan setia individu anak. Dengan
demikian diharapakan setiap anak, dapat berkembang optimal sesuai dengan
potensi dirinya.
7. Setiap Periode Perkembangan Memiliki
Karakteristik Khusus.
Setiap anak
atau peserta didik merupakan indivudu yang berbeda yang harus diperlakuakan
berbeda secara individual. Pada perkembangan secara keseluruhan dan juga pada
periode atau tahapan perkembangan dalam kehidupan seseorang, terdapat pola-pola
umum. Dengan memperhatikan karakteristik khusus, pada setiap periode atau
tahapan perkembangan, maka diharapkan kita mendapat gambaran mengenai apa yang
akan terjadi sehingga dapat menyikapinya dengan tepat dan membantu perkembangan
anak secara optimal.Para ahli mengemukakan berbagai macam pembagian periode
atau tahap perkembangan yang berbeda-beda. Salah satu pembagian periode
perkembangan yang dikemukakan oleh Hurlock adalah periode pralahir, periode
bayi, periode anak (awal dan akhir), periode remaja (awal dan akhir), serta
periode dewasa (dewasa dini, usia madia dan usia lanjut). Peralihan periode
perkembangan sebelumnya ke periode berikutny ditandai oleh gejala keseimbangan
dan ketidak seimbangan yang terjadi pada setiap individu. Apabila individu
telah mampu mengadakan penyesuaian dirinya dengan perkembangan yang terjadi
maka terciptalah suatu keseimbangan (equilibrium). Selajutnya, individuberupaya
melepaskan diri dari ketergantungan dengan lingkungan atau keadaan sebelumnya
untuk mencari sesuatu yang lebih baru sehingga terjadi keadaan ketidak
seimbangan (disequilibrium). Hal ini terjadi secara berkelanjutan dalam
perkembangan kehidupan sesesorang.
8. Terhadap Harapan Sosial pada Setiap
Periode Perkembangan.
Pada setiap
periode perkembangan juga terdapat harapan sosial, yang oleh Havighurst disebut
tugas perkembangan (development task). Mengingat pentingnya peran tugas
perkembangan pada setiap periode perkembangan, maka akan dibahas secara
tersendiri khususnya tugas perkembangan pada periode anak usia SD/MI (6-12
tahun). Peserta didik yang mengalami keberhasilan dalam menyelesaikan tugas
perkembangannya akan mengalami rasa bahagia. Sebaliknya, peserta didik yang
mengalami kegagalan atau kekurang berhasilan dalam menyelesaikan tugas
perkembangannya, akan merasa kurang bahagia sehingga dapat menghambat
perkembangan selanjutnya.
9. Setiap Perkembangan Mengandung Bahaya
Potensial/ Resiko.
Bahaya
potensial atau resiko yang terjadi karena peralihan antarperiode perkembangan
yakni, dari periode perkembangan sebelumnya ke periode perkembangan
selanjutnya, terjadi kedaan ketidak seimbangan dan adanya tututan sosial
terhadap perserta didik yang sedang berkembang. Bahaya potensial tersebut dapat
berasal dari individu, baik secara fisik atau psikis, juga terdapat distimulasi
dari luar sehubungan dengan masalah-masalah penyesuaian akibat keadaan ketidak
seimbangan tututan sosial untuk menyelesaikan tugas perkembangan tersebut. Dengan menyadari adanya bahaya
potensial atau resiko pada setiap periode perkembangan, kita perlu bersikap
bijaksana dalam menghadapi gejolak prilaku peserta didik. Hal ini akan dapat
mencegah atau meminimal dampak negatif akibat perkembangan setiap periode pada
diri mereka.
10. Kebahagian bervariasi pada Berbagai
Periode Perkembangan.
Kebahagiaan
dalam perkembangan sangat bervariasi karena sifatnya subjektif. Rasa
kebahagiaan itu dipersepsi dan dirasakan setiap orang dengan cara yang sangat
bervariasi. Akan tetapi, banyak orang berpendapat bahwa, masa anak merupakan
periode yang membahagiakan dibandingkan dengan periode-periode lainnya.
Kebahagiaan pada masa kecil memegang peranan penting dalam perkembanagn
seseorang karena menjadi modal dasar bagi kesuksesan perkembangan dan kehidupan
selanjutnya. Anak yang bahagia tercermin pada sosok dan prilakunya. Biasanya
mereka sehat dan energy. Oleh karena itu, pada masa perkembangan, guru maupun
orang tua perlu membekali anak dengan motivasiyang kuat, menyalurkan energy
anak pada kegiatan-kegiatan bermanfaat, melatih mereka menghadapi dan menerima
keadaan ketidakseimbangan dan situasi sulit dengan lebih tenang dan tidak
panik, serta mendorong mereka untuk membina hubungan sosial secara sehat.
2.3 Tugas-Tugas Perkembangan
Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah
tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode
kehidupan tertentu; dan apabila berhasil
mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan
kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga
akan mengalami kesulitan.Adapun yang menjadi sumber dari pada tugas-tugas
perkembangan tersebut menurut Havighurst adalah: Kematangan pisik, tuntutan
masyarakat atau budaya dan nilai-nilai dan aspirasi individu. Pembagian
tugas-tugas perkembangan untuk masing-masing fase dari sejak masa bayi sampai
usia lanjut dikemukakan oleh Havighurst sebagai berikut:
1. Masa bayi dan anak-anak
a. Belajar berjalan
Belajar
berjalan terjadi pada usia antara 9 sampai 15 bulan, pada usia ini tulang kaki,
otot dan susunan syarafnya telah matang untuk belajar berjalan.
b. Belajar mekan makanan padat
Hal
ini terjadi pada tahun kedua, sistem alat-alat pencernaan makanan dan alat-alat
pengunyah pada mulut telah matang untuk hal tersebut.
c. Belajar berbicara
Mengeluarkan suara yang
berarti dan menyampaikannya kepada orang lain dengan perantaraan suara itu.
Untuk itu, diperlukan kematangan otot-otot dan syaraf dari alat-alat bicara.
d. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
Tugas
ini dilakukan pada tempat dan waktu yang sesuai dengan norma masyarakat.
Sebelum usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi (menahan) ngompol
karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna. Untuk
memberikan pendidikan kebersihan terhadap anak usia di bawah 4 tahun, cukup
dengan pembiasaan saja, yaitu setiap kali mau buang air, bawal anak ke WC tanpa
banyak memberikan penerangan kepadanya.
e. Mencapai stabilitas fisiologik
Keadaan
jasmani anak sangat labil apabila dibandingkan dengan orang dewasa, anak cepat
sekali merasakan perubahan suhu sehingga temperatur badannya mudah berubah.
Untuk mencapai kestabilan jasmaniah, bagi anak diperlukan waktu sampai usia 5
tahun. Dalam proses mencapai kestabilan jasmaniah ini, orangtua perlu
memberikan perawatan yang intensif, baik menyangkut pemberian makanan yang
bergizi maupun pemeliharaan kebersihan.
f. Membentuk pengertian sederhana tentang
realitas fisik dan social
Pada
mulanya dunia ini bagi anak merupakan suatu keadaan yang kompleks dan
membingungkan. Lama kelamaan anak dapat mengamati benda-benda atau orang-orang
disekitarnya. Perkembangan lebih lanjut, anak menemukan keteraturan dan dapat
membentuk generalisasi (kesimpulan) dari berbagai benda yang pada umumnya
mempunyai ciri yang sama. Anak belajar bahwa bayangan tertentu dengan suara
tertentu yang nyaring memenuhi kebutuhannya disebut “orang”,”ibu” dan ”ayah”.
Anak belajar bahwa benda-benda khusus dapat dikelompokkan dan diberi satu nama,
seperti kucing, ayam, kambing, dan burung dapat disebut binatang. Untuk
mencapai kemampuan tersebut (mengenal pengertian-pengertian) diperlukan
kematangan sistem syaraf, pengalaman dan bimbingan dari orang dewasa.
g. Belajar kontak perasaan dengan orang tua,
keluarga, dan orang lain
Anak
mengadakan hubungan dengan orang-orang yang ada disekitarnya dengan menggunakan
berbagai cara, yaitu isyarat, menirukan dan menggunakan bahasa. Cara yang
diperoleh dalam belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang lain,
sedikit banyaknya akan menentukan sikapnya di kemudian hari. Apakah ia bersikap
bersahabat, bersikap dingin, introvert, extrovert, dan sebagainya. Misalnya,
apabila anak memperoleh pergaulan dengan orang tuanya itu menyenangkan, maka
cenderung akan bersikap ramah dan ceria.
h. Belajar mengetahui mana yang benar dan yang
salah serta mengembangkan kata hati
Anak
kecil dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kenikmatan dianggapnya baik,
sedangkan penderitaan dianggapnya buruk (hedonisme adalah aliran yang
menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya bertujuan mencari kenikmatan dan
kebahagiaan). Apabila anak bertambah besar ia harus belajar pengertian tentang
baik dan buruk, benar dan salah, sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat),
manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan/kenikmatan sendiri saja, tetapi
juga harus memperhatikan kepentingan/kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus
memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mengenal pengertian baik dan buruk,
benar dan salah ini dipengaruhi oleh pendidikan yang diperolehnya. Pada mulanya,
anak belajar apa yang dilarang itu berarti buruk atau salah dan apa yang
diperbolehkan itu berarti baik dan benar. Pengalaman ini merupakan permulaan
pembentukkan kata hati anak. Perkembangan selanjutnya terjadi melalui nasihat,
bimbingan, buku-buku bacaan dan analisis pikiran sendiri. Sesuatu yang penting
dalam mengembangkan kata hati anak adalah suri teladan dari orang tua dan
bimbingannya. Hal ini lebih baik daripada penggunaan hukuman dan ganjaran,
meskipun dalam situasi tertentu masih tetap diperlukan.
2.
Masa Anak Sekolah
a. Belajar ketangkasan fisik untuk bermain
Pada
masa sekolah anak sudah sampai pada taraf penguasaan otot, sehingga sudah dapat
berbaris, melakukan senam pagi dan permainan-permainan ringan, seperti sepak
bola, loncat tali, berenang, dan sebagainya.
b.
Pembentukan
sikap yang sehat terhadap diri sendiri
sebagai organism yang sedang tumbuh
Mengembangkan
kebiasaan untuk memelihara badan, meliputi kebersihan, keselamatan diri, dan
kesehatan;Mengembangkan sikap positif terhadap jenis kelaminnya (pria atau
wanita) dan juga menerima dirinya (baik rupa wajahnya maupun postur tubuhnya)
secara positif.
c.
Belajar
bergaul yang bersahabat dengan anak-anak sebaya
Yakni belajar
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru serta teman-teman
sebayanya. Pergaulan anak di Indonesia atau teman sebayanya mungkin diwarnai
perasaan senang, karena secara kebetulan temannya berbudi baik, tetapi mungkin
juga diwarnai oleh perasaan tidak senang karena teman sepermainannya suka
mengganggu atau nakal.
d.
Belajar
peranan jenis kelamin
Dari segi permainan
umpamanya akan tampak bahwa anak laki-laki tidak akan memperbolehkan anak
perempuan mengikuti permainannya yang khas laki-laki, seperti main kelereng,
main bola, dan layang-layang.
e.
Mengembangkan
dasar-dasar kecakapan membaca, menulis, dan berhitung
Salah
satu sebab masa usia 6-12 tahun disebut masa sekolah karena pertumbuhan jasmani
dan perkembangan rohaninya sudah cukup matang untuk menerima pengajaran. Untuk
dapat hidup dalam masyarakat yang berbudaya, paling sedikit anak harus tamat
sekolah dasar (SD), karena dari sekolah dasar anak sudah memperoleh
keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung.
f.
Mengembangkan
pengertian-pengertian yang diperlukan guna keperluan kehidupan sehari-hari
Ingatan
mengenai pengamatan yang telah lalu disebut konsep (tanggapan). Kita mempunyai
tanggapan tentang ayah, ibu, rumah, pakaian, buku, sekolah, dan juga mengenai
gerak-gerik yang dilakukan, seperti berbicara, berjalan, berenang, dan menulis.
Bertambahnya pengalaman akan menambah perbendaharaan konsep pada anak. Tugas
sekolah yaitu menanamkan konsep-konsep yang jelas dan benar. Konsep-konsep itu
meliputi kaidah-kaidah atau ajaran agama (moral), ilmu pengetahuan, adat
istiadat, dan sebagainya. Untuk mengembangkan tugas perkembangan anak ini, maka
guru dalam mendidik/mengajar di sekolah sebaiknya memberikan bimbingan kepada
anak untuk Banyak melihat, mendengar, dan mengalami sebanyak-banyaknya tentang
sesuatu yang bermanfaat untuk peningkatan ilmu dan kehidupan bermasyarakat.Banyak
membaca buku-buku atau media cetak lainnya. Semakin dipahami konsep-konsep
tersebut, semakin mudah untuk memperbincangkannya dan semakin mudah pula bagi
anak untuk mempergunakannya pada waktu berpikir.
g.
Mengembangkan
kata hati moralitas dan skala nilai-nilai
Hakikat
tugas ini ialah mengembangkan sikap dan perasaan yang berhubungan dengan
norma-norma agama. Hal ini menyangkut penerimaan dan penghargaan terhadap
peraturan agama (moral) disertai dengan perasaan senang untuk melakukan atau
tidak melakukannya. Tugas perkembangan ini berhubungan dengan masalah
benar-salah, boleh-tidak boleh, seperti jujur itu baik, bohong itu buruk, dan
sebagainya.
h.
Belajar
membebaskan ketergantungan diri
Hakikat
tugas ini ialah untuk dapat menjadi orang yang berdiri sendiri, dalam arti
dapat membuat rencana, berbuat untuk masa sekarang dan masa yang akan datang
bebas dari pengaruh orang tua dan orang lain.
i.
Mengembangkan
sikap sehat terhadap kelompok dan lembga-lembaga
Hakikat
tugas ini ialah mengembangkan sikap sosial yang demokratis dan menghargai hak
orang lain. Umpamanya, mengembangkan sikap tolong-menolong, sikap tenggang
rasa, mau bekerjasama dengan orang lain, toleransi terhadap pendapat orang lain
dan menghargai hak orang lain.
3. Masa
Remaja
a. Menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya
secara efektif.
Hakikat
tugasnya ini bertujuan agak remaja merasa bangga, atau bersikap toleran
terhadap fisiknya, menggunakan dan meemlihara fisiknya secara efektif, dan
merasa puas dengan fisiknya tersebut.
b. Menerima peranan sosial jenis kelamin sebagai
pria/wanita
Remaja
dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang
dijunjung tinggi oleh masyarakat.
c. Menginginkan dan mencapai perilaku sosial yang
bertanggung jawab sosial
Berpartisipasi
sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab sebagai masyarakat, dan;Memperhitungkan
nilai-nilai sosial dalam tingkah laku dirinya.
d. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua
dan orang dewasa lainnya.
Membebaskan
diri dari sikap dan perilaku yang kekanak-kanakan atau bergantung pada
orangtua,Mengembangkan afeksi (cinta kasih) kepada orangtua, dan,Mengembangkan
sikap respek terhadap orang dewasa lainnya tanpa bergantung kepadanya.
e. Belajar bergaul dengan kelompok anak-anak
wanita dan anak-anak laki-laki
f. Perkembangan skala nilai.
Membentuk
seperangkat nilai yang mungkin dapat direalisasikan,Mengembangkan kesadaran
untuk merealisasikan nilai-nilai,Mengembangkan kesadaran akan hubungannya
dengan sesama manusia dan juga alam sebagai lingkungan tempat tinggalnya, dan,
Memahami gambaran hidup dan nilai-nilai yang dimilikinya, sehingga dapat hidup
selaras (harmoni) dengan orang lain.
g. Secara sadar mengembangkan gambaran dunia yang
lebih adekwat
h. Persiapan mandiri secara ekonomi.
Hakikat
tugasnya agar remaja merasa mampu menciptakan suatu kehidupan (mata
pencaharian). Penting buat remaja pria dan tidak terlalu penting buat remaja
wanita.
i.
Pemilihan
dan latihan jabatan
Memilih
suatu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, dan,Mempersiapkan diri-memiliki
pengetahuan dan keterampilan- untuk memasuki pekerjaan tersebut.
j.
Mempersiapkan
perkawinan dan keluarga
Mengembangkan
sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga, dan memiliki anak.Memperoleh
pengetahuan yaang tepat tentang pengelolaan keluarga dan pemeliharaan anak.
k. Beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mencapai
kematangan sikap, kebiasaan dan pengembangan wawasan dalam mengamalkan
nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari,
baik pribadi maupun sosial.
l.
Mengembangkan keterampilan intelektual
dan konsep-konsep yang diperlukan bagi warga negara.
Mengembangkan
konsep-konsep hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, geografi, hakikat manusia,
dan lembaga-lembaga sosial yang cocok dengan dunia modern, dan,Mengembangkan
keterampilan berbahasa dan kemampuan nalar (berfikir) yang penting bagi upaya
memecahkan masalah-masalah secara efektif.
4.
Masa Dewasa Awal
§ Mulai bekerja
§ Memilih pasangan hidup dan belajar hidup
dengan suami/istri
§ Mulai membentuk keluarga dan mengasuh anak
§ Mengelola/mengemudikan rumah tangga
§ Menerima/mengambil tanggung jawab warga Negara
§ Menemukan kelompok sosial yang menyenangkan
5. Masa Usia Madya/Masa Dewasa Madya
§ Menerima dan menyesuaikan diri terhadap
perubahan fisik dan fisiologis
§ Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan
hidup sebagai individu
§ Membantu anak-anak remaja belajar menjadi
orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia
§ Mencapai dan mempertahankan prestasi yang
memuaskan dalam karir pekerjaan
§ Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu
senggang yang dewasa
§ Mencapai tanggung jawab sosial dan warga
Negara secara penuh.
6.
Masa
usia lanjut
§ Menyesuaikan
diri dengan kondisi fisik dan kesehatan yang semakin menurun.
§ Menyesuaikan
diri dengan situasi pensiun dan penghasilan yang semakin berkurang.
§ Menyesuaikan
diri dengan kematian dari pasangan hidup.
§ Membina
hubungan dengan sesama usia lanjut.
§ Memenuhi
kewajiban-kewajiban sosial dan kenegaraan.
§ Memelihara
kondisi dan kesehatan.
§ Kesiapan menghadapi kematian.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Psikologi
perkembangan berawal pada pemahaman yang mendalam pada anak-anak. Muncullah
Plato, J.A. Comenius, John Locke, Jean Jacques Roussean sebagai pelopor
psikologi perkembangan. Objek dari psikologi perkembangan adalah perkembangan.
Dalam perkembangan terdapat prinsip-prinsip maupun tugas-tugas perkembangan
yang seharusnya terjadi sesuai dengan usianya. Prinsipnya yaitu perkembangan
melibatkan perubahan, perkembangan awal lebih kritis dari pada perkembangan
selanjutnya, perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar, pola
perkembangan dapat diramalkan, pola perkembangan mempunyai
karakteristik yang dapat diramalkan, terdapat perbedaan individu dalam
berkembang, periode pola perkembangan, pada setiap periode perkembangan
terdapat harapan sosial, setiap bidang perkembangan mengandung bahaya dan
potensial, kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode perkembangan.
3.2 Saran
Kita
sebagai calon pekerja sosial, harus mengetahui dan mengenali macam-macam
prinsip serta tugas perkembangan agar dalam meniti/mengintervensi klien, kita
dapat menangani dan mencari jalan keluar masalahnya dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Melalui
Melalui
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/194412051967101-KOKO_DARKUSNO_A/TUGAS-TUGAS_PERKEMBANGAN.pdf.
2 Desember 2019
Melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_perkembangan.
2 Desember 2019
Melalui

Tidak ada komentar:
Posting Komentar