Seperti
kita ketahui keluarga adalah satu atau dua orang tua beserta anak anaknya yang
hidup bersama, Keluarga juga merupakan lingkungan terdekat dari setiap
individu, utamanya bagi seorang anak. Pengetahuan, pemahaman dan interaksi yang
mereka dapatkan pertama kali adalah dari lingkungan keluarga, sekaligus seiring
waktu yang akan mengiringi perkembangan mereka. Beberapa penelitian juga
menegaskan akan pentingnya peran keluarga terhadap perkembangan jiwa anak serta
keberhasilan pendidikan anak dengan berbagai kondisi anak itu sendiri. Beberapa
aspek penting dari peran keluarga dalam pendidikan anak antara lain:
Keharmonisan Orang Tua, Perhatian Orang Tua Terhadap Anak, Komunikasi yang
Demokratis, dan aspek lainnya. Pada tulisan ini saya akan menceritakan kisah
nyata perjuangan Orang Tua yang berada di sebuah pulau yang bersemangat dan
bekerja keras demi kesuksesan anak-anaknya. Semoga kisah nyata yang saya
ceritakan ini menjadi motivasi dan semangat untuk kalian agar terus berjuang
membahagiakan orang tua kalian.
Bagi
orangtua, anak adalah segala-galanya. Berbagai upaya pasti akan dilakukan demi
membahagiakan buah hatinya. Banyak jalan menuju Roma. Sepertinya ungkapan itu
pantas disematkan bagi para orangtua yang bekerja banting tulang demi
menyekolahkan anak setinggi-tingginya. “Jangan
sampai anak saya bodoh seperti saya.” Keinginan itu menjadi semacam cambuk bagi
orangtua yang menaruh harapan pada anak-anaknya agar tidak bernasib sama. Hal
itulah yang dilakukan oleh pasangan suami istri I Wayan Sukla dan Ni Made Sugiri,
warga Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Di tengah segala keterbatasan
ekonomi, pasangan suami istri ini pantang menyerah dan terus memperjuangkan
agar keempat anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi demi masa depan mereka.
Bapak kelima orang anak yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan buruh
serabutan mengakui bahwa tidak pernah mengeyam pendidikan. Ia pun tak ingin
anak anak-anaknya kelak seperti dirinya. "Cita-cita saya ingin anak-anak
bisa sekolah sampai tinggi. Jangan seperti saya, mereka harus lebih," ujar
Wayan Sukla. Penghasilan sebagai petani dan buruh serabutan, menurutnya
tidaklah besar, bahkan bisa dikatakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan
hidup keluarganya. Namun demikian, Wayan Sukla enggan menyerah dengan keadaan.
Bapak yang sering dipanggil Pak Asti ini pun harus membanting tulang untuk
mencari tambahan penghasilan demi bisa membiayai sekolah keempat anaknya. Segala
jenis pekerjaan diterimanya. Meski berat, namun semua itu dijalaninya dengan
ikhlas. Sebab Pak Asti meyakini lewat pendidikan dapat menghantarkan keempat
buah hatinya meraih cita-cita mereka dan memiliki kehidupan yang lebih baik.
"Sebagai orang tua semua akan dilakukan demi anak. Saya akan usahakan
supaya anak saya bisa sekolah sampai sarjana, untuk masa depan mereka, Yang
saya yakini pendidikan bisa mengubah jalan hidup menjadi lebih baik, walaupun
saya tidak pernah mengeyam pendidikan bahkan membaca pun saya tidak bisa, saya
tidak ingin anak anak saya seperti saya, itulah yang menjadi pegangan saya
untuk tetap bersemangat dalam bekerja" katanya. Dengan penghasilan yang
pas-pasan bahkan dibilang sangat kurang apalagi untuk membiayai anak-anaknya
dalam mengeyam pendidikan, Pak Asti memiliki banyak hutang. Bagaimana tidak nekat. Tahu kemampuan finansialnya gak
bagus karena statusnya sebagai petani dan buruh serabutan, Pak Asti berutang
untuk biaya kuliah anak anaknya. Sampai saat ini Pak Asti masih berutang di
banyak tempat. Tutup lubang, gali lubang sudah biasa dilakukannya selama
bertahun-tahun. Namun dia tidak merasa khawatir meski kadang dicemooh. Sampai-sampai
tetangganya pada nyinyir. “Hidup aja susah kok nguliahin anak.” Namun karena
sudah bertekad baja, Pak Asti dan istri tidak mau menyerah. Utang Pak Asti memang masih
ada, tapi anak anaknya diharapkan bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik
darinya. Itulah yang menjadi impiannya. Dia tidak mau anak-anaknya hidup susah
seperti dia.
Pak
Asti bersyukur keempat anaknya tidak pernah mengeluh dengan kondisi yang ada.
Mereka anaknya juga bertanggung jawab akan studinya dengan rajin belajar supaya
bisa segera menyelesaikan pendidikan. "Jujur, sederhana dan bertanggung
jawab itu pesan yang selalu saya sampaikan ke mereka serta harus ingat kepada
keadaan keluarga untuk menjadi alarm bagi mereka agar tetap hidup hemat, dan sederhana,"
tuturnya. Satu anaknya (Nyoman Astrawan) sudah menyelesaikan pendidikan di STIKOM Bali pada tahun 2008 dan sudah
bekerja di salah satu perusahaan di Bali. Dan baru ini pada bulan Agustus 2019 anaknya
yang ketiga (I Ketut Andika Pradnyana) menyelesaikan studi S1 Sarjana Pendidikan
di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
melalui program beasiswa pemerintah yaitu beasiswa Bidikmisi selama
perkuliahan, dan pada saat ini sedang menempuh pendidikan lanjutan S2 di
Universitas Pendidikan Ganesha dengan penerima beasiswa Rektor Undiksha. Tidak
hanya itu dua anak perempuannya sedang menempuh pendidikan diantaranya (Ni
Wayan Dian Yusmara Yanti) sedang menempuh pendidikan Sarjana di Universitas
Pendidikan Ganesha dengan penerima beasiswa Bidikmisi dan (Ni Kadek Intan
Lestari Dewi) masih menempuh pendidikan
di SMP Negeri 2 Nusa Penida. Usaha
dan kerja keras yang dilakukan selama puluhan tahun pun tidak sia-sia. Pak Asti
kini dapat bernafas lega setelah menghantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan
di perguruan tinggi.
Bercermin
dari kisah nyata di atas, pelajaran yang patut diambil adalah jangan pernah
merasa malu atau minder akan profesi orangtua kita. Karena di balik itu semua,
tersimpan sebuah harapan yang besar yang ditujukan semata-mata agar kita
menghadapi masa depan yang cerah. Demi kebahagiaan dalam hidup, kesejahteraan keluarga bisa
menjadi target utama karir seseorang. Bukan target ambisi pribadi. Toh, ketika
target itu terpenuhi, kita ikut terkena dampak positifnya. Sebagai satu
keluarga, susah-senang mestinya ditanggung bersama. Apalagi buat yang berstatus
orang tua. Melihat anak hidup sejahtera adalah kebanggaan. Ambisi pribadi
sebaiknya dikesampingkan demi masa depan cerah anak kelak. Dan sebagai anak
tetap menjaga harga diri dan nama baik orang tua, karena kerja keras orang tua
adalah harapan besar untuk kehidupan kalian yang lebih baik.

Mantap bener ini bang... Sukses truss
BalasHapusSiap bang. Makasi bang
Hapus