MAKALAH LANDASAN PEMBELAJARAN
TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Oleh:
I KETUT ANDIKA PRADNYANA
TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LatarBelakang
Teori belajar
Behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage
dan Berliner tentang perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu
berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran
behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar.Teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan
orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu
dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku
akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.
Menurut teori
behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini
dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang
berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,
sedangkan respon berupa reaksi atau
tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses
yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena
tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus
dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa
yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk
melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud
dengan teori behavioristik?
2.
Siapa tokoh-tokoh yang menganut teori behavioristik?
3.
Bagaimanakah pendapat
para tokoh mengenai teori belajar behavioristik?
4.
Apa saja model-model
pembelajaran yang menggunakan teori belajar behavioristik?
1.3
Tujuan
1.
Untuk mengetahui
pengertian teori belajar behavioristik.
2.
Untuk mengetahui siapa
saja dan pendapat para tokoh mengenai teori belajar behavioristik.
3.
Untuk mengetahui
model-model pembelajaran yang menggunakan teori belajar behavioristik.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teori Behaviorisme
Dalam teori
behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat
diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan
nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.
Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan.
Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional
atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya
dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih
menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk
reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan
akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin”
(Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan
bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan
pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan
mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang
diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini
sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan
oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.
Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara
reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini
berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan
tingkahl laku adalah hasil belajar.
Kaum behavioris
menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement
dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam
berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya
merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian
kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian
tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul,
1997).Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik.
Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya
terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran
seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan
program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan
stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement),
merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan
Skiner.
Faktor lain
yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan
(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka
respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan
(negative reinforcement) maka responpun akan semakin kuat. Beberapa prinsip
dalam teori belajar behavioristik, meliputi:
1. Reinforcement and Punishment
2. Primary and Secondary Reinforcement
3. Schedules of Reinforcement
4. Contingency Management
5. Stimulus Control in Operant Learning
Prinsip-prinsip teori behaviorisme
1. Obyek psikologi adalah tingkah laku
2. semua bentuk tingkah laku di kembalikan
pada reflek
3. mementingkan pembentukan kebiasaan
Ciri-ciri Teori Belajar Behavioristik
Untuk mempermudah mengenal teori belajar behavioristik dapat dipergunakan
ciri-cirinya yakni
1. Mementingkan pengaruh lingkungan (environmentalistis)
2. Mementingkan bagian-bagian (elentaristis)
3. Mementingkan peranan reaksi (respon)
4. Mementingkan mekanisme terbentuknya hasil belajar
5. Mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu yang lalu
6. Mementingkan pembentukan kebiasaan.
7. Ciri khusus dalam pemecahan masalah dengan “mencoba dan gagal’ atau
trial and error.
2.2
Tokoh-tokoh teori behavioristik
a)
Teori Menurut Thorndike
Menurut
Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus
adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan
respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat
pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah
laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati,
atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme
sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara
mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut
pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000). Jadi perubahan
tingkah laku akibat belajar dapat berwujud konkrit, yaitu dapat diamati, atau
tidak konkrit yaitu tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur
tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan
“Teori Connectionism”.
Dasar-dasar teori Connectionism dari Edward L. Thorndike (1874-1949)
diperoleh juga dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap perilaku
binatang. Penelitian-penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang untuk
mengetahui apakah binatang mampu memecahkan masalah dengan menggunakan
“reasoning” atau akal, dan atau dengan mengkombinasikan beberapa proses
berpikir dasar.Dalam penelitiannya, Thorndike menggunakan beberapa jenis
binatang, yaitu anak ayam, anjing, ikan, kucing dan kera. Percobaan yang
dilakukan mengharuskan binatang-binatang tersebut keluar dari kandang untuk
memperoleh makanan. Untuk keluar dari kandang, binatang-binatang tersebut harus
membuka pintu, menumpahkan beban, dan mekanisme lolos lainnya yang sengaja
dirancang. Pada saat dikurung, binatang-binatang tersebut menunjukkan sikap
mencakar, menggigit, menggapai dan bahkan memegang / mengais dinding kandang.
Cepat atau lambat, setiap binatang akan membuka pintu atau menumpahkan beban
untuk dapat keluar dari kandang dan memperoleh makanan. Pengurungan yang
dilakukan berulang-ulang menunjukkan penurunan frekuensi binatang tersebut
untuk melakukan pencakaran, penggigitan, penggapaian atau pengaisan dinding
kandang, dan tentu saja waktu yang dibutuhkan untuk keluar kandang cenderung
menjadi lebih singkat.
Percobaan Thorndike yang terkenal ialah dengan menggunakan seekor kucing yang
telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya
dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar
tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error”
atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara
mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing
tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai
hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus
baru ini akan menimbulkan response lagi. Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka
kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari.
Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu
sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini
diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12
kali, kucing baru dapat dengan sengaja menyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.
Dari hasil penelitiannya, Thorndike menyimpulkan bahwa respon untuk keluar
kandang secara bertahap diasosiasikan dengan suatu situasi yang menampilkan
stimulus dalam suatu proses coba-coba (“trial and error”). Respon yang benar
secara bertahap diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respon
yang tidak benar melemah atau menghilang. Teori Connectionism Thorndike ini
juga dikenal dengan nama “Instrumental Conditioning”, karena respon tertentu
akan dipilih sebagai instrumen dalam memperoleh “reward” atau hasil yang
memuaskan.
Thorndike mengemukakan tiga dalil tentang belajar, yaitu :
1.
Law Of Effect (Dalil / Hukum Sebab
Akibat)
Dalil / hukum ini menunjukkan kuat lemahnya hubungan stimulus dan respon
tergantung kepada akibat yang ditimbulkan. Apabila respon yang ditimbulkan
mendatangkan kesenangan, maka respon tersebut akan dipertahankan atau diulang ;
sebaliknya jika respon yang ditimbulkan adalah hal yang tidak menyenangkan,
maka respon tersebut dihentikan atau tidak diulang lagi.
2.
Law Of Exercise (Dalil / Hukum
Latihan Atau Pembiasaan)
Dalil / hukum ini menunjukkan bahwa stimulus dan respon akan semakin kuat
manakala terus menerus dilatih atau diulang ; sebaliknya hubungan stimulus dan
respon akan semakin melemah jika tidak pernah dilatih atau dilakukan
pengulangan.
3.
Law Of Readiness (Dalil / Hukum
Kesiapan)
Menurut dalil / hukum ini, hubungan antara stimulus dan respon akan mudah
terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Jika seorang ada kesiapan
untuk merespon atau bertindak, maka tindakan yang dilakukan akan memberi
kepuasan dan mengakibatkan orang tersebut untuk tidak melakukan
tindakan-tindakan lain.
Dari sekian banyak
penelitian yang dilakukan, Thorndike lalu menyimpulkan tentang pengaruh proses
belajar tertentu terhadap proses belajar berikutnya, yang dikenal dengan proses
“transfer of learning” atau perampat proses belajar. Thorndike mengemukakan
bahwa latihan yang dilakukan dan proses belajar yang terjadi dalam mempelajari
suatu konsep akan membantu penguasaan atau proses belajar seorang terhadap
konsep lain yang sejenis atau mirip (associative sbifting). Teori Connectionism
dari Thorndike ini dikenal sebagai teori belajar yang pertama.
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan
sebagai berikut:
1.
Hukum Reaksi
Bervariasi (multiple response)
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali
oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon
sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
2. Hukum Sikap ( Set/ Attitude)
Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar
seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja,
tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif,
emosi , sosial , maupun psikomotornya.
3. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of
Element)
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses
belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya
terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif).
4. Hukum Respon by Analogy
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam
melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu
sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan
situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan
unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.
5. Hukum Perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting)
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke
situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan
sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.
Selain menambahkan hukum-hukum baru, dalam
perjalanan penyampaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar
antara lain :
1.
Hukum
latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk
memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan
stimulus respon belum tentu diperlemah.
2.
Hukum akibat
direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan
tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
3.
Syarat utama
terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling
sesuai antara stimulus dan respon.
4.
Akibat suatu
perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain.
Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training,
yaitu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk
memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan
terhadap kucing dengan problem box-nya. Koneksi antara
kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah,
tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila
anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya,
ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya.
Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya
sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan
perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan
terjadi secara mekanis(Suryobroto, 1984).
b)
Teori Belajar Menurut Watson
Watson
mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon,
namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan
dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental
dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor
tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat
diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang
belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang
sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat
diamati dan diukur.
c) Teori Belajar
Menurut Clark Hull
Clark
Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk
menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi
Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah
laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup.
Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan
kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral
dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam
belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon
yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku
juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis
(Bell, Gredler, 1991).
d)
Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas
belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan
stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung
akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga
menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya
proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah
situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan
sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan
mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon
bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu
sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat
lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment)
memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat
yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.Saran utama dari teori
ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Siswa
harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru
tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler,
1991).
Teori
Pembelajaran Menurut Edwin Ray Guthrie – Guthrie dan Horton (1946) secara
cermat mengamati sekitar delapan ratus kali tidak melepaskan diri dari kotak
teka-teki yang dilakukan oleh kucing yang kemudian observasi ini dilaporan
dalam sebuah buk yang berjudul cats in a Puzzle Box. Kotak yang ereka
pakai sama dengan yang dipakai Thorndike dalam melakukan eksperimennya. Guthrie
dan Horton menggunakan banyak kucing sebaai subyek percobaan, akan tetapi
mereka melihat kucing kelar dari kotak dengan cara sendiri-sendiri dan
berbeda-beda.Dari percobaan diatas respon khusus yang dipelajari oleh hewan
tertentu adalah respon yang dilakukan hewan sebelum ia keluar dari kotak.
Karena respon ini cenderung diulang lagi saat kucing diletakkan di kotak di
waktu yang lain, maka ia dinamakan stereotyped behavior (perilaku
strereotip).Guhtrie dan Horton mengamati bahwa seringkali hewan, setelah
bebas dari kotak akan mengabaikan ikan yang diberikan kepadanya. Meskipun hewan
itu mengabaikan obyek yang disebut penguatan tersebut, kucing dapat keluar dari
kotak dengan lancar ketika diwaktu yang lain ia dimasukkan lagi ke dalam kotak.
Observasi ini, menurut Guthrie memperkuat pendapatnya bahwa penguatan hanyalah
aransemen mekanis yang mencegah terjadinya unlearning. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa setiap kejadian yang diikuti dengan respons yang diinginkan
dari hewan akan mengubah kondisi yang menstimulasi dan karenanya mempertahankan
respons di dalam kondisi yang menstimulasi sebelumnya.
e)
Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep
yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh
sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih
komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi
melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan
tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh
sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu,
karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi
antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang
diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah
yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). Oleh karena itu
dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan
antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin
dimunculkan dan berbagai konsekuaensi yang mungkin timbul akibat respon
tersebut. Skinner juga mengmukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan
mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya
masalah. Beberapa prinsip
Skinner antara lain :
- Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
- Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
- Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
- Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman
- Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
- Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio reinforcer.
- Dalam pembelajaran digunakan shaping.
2.3
Model-model pembelajaran teori behavioristik
1.
Direct Instruction
Model
pembelajaran langsung secara empirik dilandasi oleh teori belajar yan berasal
dari rumpun perilaku (behavioral family), khususnya dikembangkan oleh training
behavioral psikologists. Teori belajar perilaku menekankan pada perubahan
perilaku sebagai hasil belajar yang dapat diobservasi. Menurut teori ini
belajar bergantung pada pengalaman termasuk pemberian umpan balik dari
lingkungan (slavin, 2003:165). Prinsip penggunaan teori perilaku ini dalam
belajar adalah pemberian penguatan yang akan meningkatkan perilaku yang
diharapkan. Penguatan melalui umpan balik pada setiap tahapan tugas yang
diberikan kepada pebelajar merupakan dasar praktis penggunaan teori ini dalam
pembelajaran.
Para
ahli psikologi perilaku memfokuskan pada cara-cara melatih seseorang untuk
menguasai sejumlah keterampilan kompleks yang melibatkan kerja yang akurat dan
presisi dan melibatkan koordinasi dengan orang lain. Prinsip pembelajaran
langsung difokuskan pada konseptualisasi kinerja pebelajar ke dalam tujuan yang
akan dicapai melalui pelaksanaan tugas-tugas yang harus dilakukan, dan
pengembangan aktivitas latihan untuk memantapkan penguasaan setiap komponen
tugas yang diberikan. Istilah directive digunakan untuk menekankan pembelajaran
dalam mencapai tujuan bahwa siswa dapat meniru perilaku-perilaku atau
keterampilan yang dimodelkan atau diperagakan atau diinstruksikan oleh
guru.Direct Instruction atau pembelajaran langsung digunakan oleh para peneliti
untuk merujuk pola-pola pembelajaran dimana guru banyak menjelaskan konsep atau
keterampilan kepada sejumlah kelompok siswa dan menguji keterampilan siswa
melalui latihan-latihan dibawah bimbingan dan arahan guru. Dengan demikian
tujuan pembelajaran distrukturkan oleh guru.
Tujuan
utama model direktif adalah memaksimalkan penggunaan waktu belajar siswa.
Beberapa temuan dalam teori perilaku dihubungkan dengan pencapaian siswa yang
dihubungkan dengan waktu yang digunakan oleh siswa dalam belajar/tugas dan
kecepatan siswa untuk berhasil dalam mengerjakan tugas. Dengan demikian, model
pembelajaran langsung dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar
terstruktur, dan berorientasi akademik. Guru berperan sebagai penyampai informai,
dalam melakukan tugasnya, guru dapat menggunakan berbagai media, misalnya film,
tape recorder, gambar, peragaan, dan sebagainya. Informasi yang dapat
disampaikan dengan strategi direktif dapat berupa pengetahuan prosedural, yaitu
pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu atau pengetahuan deklaratif,
yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau
generalisasi. Dengan demikian pembelajaran langsung dapat didefinisikan sebagai
model pembelajaran dimana guru mentransformasikan informasi atau keterampilan
secara langsung kepada siswa dan pembelajaran berorientasi pada tujuan dan
distrukturkan oleh guru. Model ini sangat cocok jika uru menginginkan siswa
menguasai informai atau keterampilan tertentu. (Gerten, Taylor & Graves,
1999), akan tetapi jika guru menginginkan siswa belajar menemukan konsep lebih
jauh dan melatihkan keterampilan berpikir lainnya, maka model ini kurang cocok.
a.
Karakteristik Model Pembelajaran Langsung
Salah
satu karakteristik dari suatu model pembelajaran adalah adanya sintaks atau
tahapan pembelajaran. Di samping harus memperhatikan sintaks, guru yang akan
menggunakan model pembelajaran langsung juga harus memperhatikan
variabel-variabel lingkungan lainnya, yaitu fokus akademik, arahan dan kontrol guru,
harapan yang tinggi untuk kemajuan siswa, waktu, dan dampak netral dari
pembelajaran.Fokus akademik diartikan sebagai prioritas pemilihan tugas-tugas
yang harus dilakuikan siswa , selama pembelajaran, aktivitas akademik harus
ditekankan. Pengarahan dan kontrol guru terjadi ketika guru memilih tugas-tugas
siswa dan melaksanakan pembelajaran, menentukan kelompok, berperan sebagai
sumber belajar selama pembelajaran , dan meminimalisasikan kegiatan non
akademik diantara siswa. Kegiatan pembelajaran diarahkan pada pencapaian tujuan
sehingga guru memiliki harapan yang tinggi terhadap tugas-tugas yang harus
dilaksanakan oleh siswa. Dengan demikian pembelajaran langsung sangat
mengoptimalkan penggunaan waktu.
Sintaks
model pembelajaran langsung menurut Bruce dan Weil (1996:349) adalah sebagai
berikut.
1.
Orientasi
Sebelum
menyajikan dan menjelaskan materi baru,
akan sangat menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran dan
orientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat berupa
: a) kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan
pengetahuan yang dimiliki siswa; b) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan
pelajaran; c) memberikan penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan
dilakukan; d) menginformasikan materi/konsep yang akan digunakan dan kegiatan
yang akan dilakukan selama pembelajaran; dan e) menginformasikan kerangka
pelajaran.
2.
Presentasi
Pada fase ini
guru dapat menyajikan materi pelajaran baik konsep-konsep maupun keterampilan.
Penyajian materi dapat berupa : a)
penyajian materi dalam langkah-langkah kecil sehingga materi dapat
dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek; b) pemberian contoh-contoh konsep;
c) pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi atau penjelasan
langkah-langkah kerja terhadap tugas; d) menghindari disgresi; e) menjelaskan
ulang hal-hal yang sulit.
3.
Latihan terstruktur
Pada fase ini
guru memandu siswa untuk melakukan latihan-latihan. Peran guru yang penting
dalam fase ini adalah memberikan umpan balik terhadap respon siswa dan
memberikan penguatan terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi respon
siswa yang salah.
4.
Latihan terbimbing
Pada fase ini
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih konsep atau
keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga digunakan oleh guru untuk
mengasah kemampuan siswa untuk melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru
adalah memonitor dan memberikan bimbingan jika diperlukan.
5.
Latihan mandiri
Pada fase ini
siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, fase ini dapat dilalui siswa
jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85-90% dalam fase bimbingan
latihan.
Slavin
(2003:222) mengemukakan tujuh langkah dalam sintaks pembelajaran langsung,
yaitu sebagai berikut.
1.
Menginformasikan
tujuan pembelajaran dan orientasi pembelajaran kepada siswa. Dalam fase ini
guru menginformasikan hal-hal yang harus dipelajari dan kinerja siswa yang
diharapkan.
2.
Mereview pengetahuan
dan keterampilan prasyarat. Dalam fase ini guru mengajukan pertanyaan untuk
mengungkap pengetahuan dan keterampilan yang telah dikuasai siswa.
3.
Menyampaikan materi
pelajaran. Dalam fase ini, guru menyampaikan materi, menyajikan informasi,
memberikan contoh-contoh, mendemonstrasikan konsep dan sebagainya.
4.
Melaksanakan
bimbingan, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menilai tingkat
pemahaman siswa dan mengoreksi kesalahan konsep.
5.
Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk berlatih. Dalam fase ini, guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk melatih keterampilannya atau menggunakan informasi baru secara
individu atau kelompok.
6.
Menilai kinerja siswa
dan memberikan umpan balik. Guru memberikan reviu terhadap hal-hal yang telah
dilakukan siswa, memberikan umpan balik terhadap respon siswa yang benar dan
mengulang keterampilan jika diperlukan.
7.
Memberikan latihan
mandiri. Dalam fase ini, guru dapat memberikan tugas-tugas mandiri kepada siswa
untuk meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang telah mereka pelajari.
Berdasarkan
sintaks di atas, model pembelajaran langsung mengutamakan pendekatan deduktif,
dengan titik berat pada proses belajar konsep dan keterampilan motorik. Suasana
pembelajaran terkesan lebih terstruktur dengan peranan guru yang lebih dominan.
b.
Teaching centered
Pada
sistem pembelajaran model Teacher Centered Learning, guru lebih banyak melakukan
kegiatan belajar-mengajar dengan bentuk ceramah (lecturing). Pada saat
mengikuti kuliah atau mendengarkan ceramah, siswa sebatas memahami sambil
membuat catatan, bagi yang merasa memerlukannya. Guru menjadi pusat peran dalam
pencapaian hasil pembelajaran dan seakan-akan menjadi satu-satunya sumber ilmu.
Model ini berarti memberikan informasi satu arah karena yang ingin dicapai
adalah bagaimana guru bisa mengajar dengan baik sehingga yang ada hanyalah
transfer pengetahuan. Pendekatan teacher center dimana proses pembelajaran
lebih berpusat pada guru hanya akan membuat guru semakin cerdas tetapi siswa
hanya memiliki pengalaman mendengar paparan saja. Output yang dihasilkan oleh
pendekatan belajar seperti ini tidak lebih hanya menghasilkan siswa yang kurang
mampu mengapresiasi ilmu pengetahuan, takut berpendapat, tidak berani mencoba
yang akhirnya cenderung menjadi pelajaran yang pasif dan miskin kreativitas.
·
Kelebihan dan kelemahan Model Pembelajaran Teacher Center
Learning
Kelebihan
|
Kelemahan
|
Sejumlah
besar informasi dapat diberikan dalam waktu singkat
|
Pengajar
mengendalikan pengetahuan sepenuhnya, tidak ada partisipasi dari pembelajar
|
Informasi
dapat diberikan ke sejumlah besar siswa
|
Terjadi
komunikasi satu arah, tidak merangsang siswa unuk mengemukakan pendapatnya
|
Pengajar
mengendalikan sepenuhnya organisasi, bahan ajar, dan irama pembelajaran
|
Tidak
kondusif terjadinya critical thinking
|
Merupakan
mimbar utama bagi pengajar dengan kualifikasi pakar
|
Mendorong
pembelajaran pasif
|
Bila
pembelajaran diberikan dengan baik menimbulkan inspirasi dan stimulasi bagi
siswa
|
Suasana
tidak optimal untuk pembelajaran secara aktif dan mandiri
|
Metode
asesmen cepat dan mudah
|
Contoh
Kasus Penerapan Teori Belajar Behaviorisme:
Ani
merupakan seorang murid yang tidak begitu berprestasi di bidang akademik
sewaktu duduk di bangku SD. Setelah mengamati anak perempuannya yang tak becus
dalam urusan sekolah, Ibu Ani menawarkan sebuah perjanjian yang rupanya dapat
menumbuhkan motivasi belajarnya. Apabila Ani bisa memperoleh peringkat sepuluh
besar, Ani akan terbebas dari segala urusan rumah tangga, seperti mengepel,
menyapu, mencuci, dan lain sebagainya.Alhasil, Ani pun giat belajar demi
terbebas dari kewajiban membantu ibu. Dan tanpa disangka, Ani berhasil
memperoleh peringkat pertama. Senyuman penuh kebahagian, syukur, dan rasa
bangga pun yang terukir di wajah ibu setelah pulang mengambil rapor. Hal ini
menyebabkan Ani menjadi kian kalut dalam usaha mempertahankan juara kelas dari
tahun ke tahun. Dan banyak hal positif yang saya rasakan setelah itu, seperti
lebih dihargai teman dan guru. Sayangnya, ketika Ani gagal menjaga konsistensi
tersebut, maka Ani akan mendapatkan beberapa hal sebagai ganjaran, seperti
berkurangnya waktu bermain dan sudah tentu harus tetap mengerjakan tugas
bersih-bersih rumah.
Dari
Contoh Kasus Teori Belajar Behaviorisme di atas, dapat dijabarkan
beberapa hal sebagai berikut :
1.
Penguatan
(reinforcement) atau penghargaan (reward), yaitu suatu konsekuensi yang meningkatkan
peluang terjadinya sebuah perilaku, seperti usaha belajar yang meningkat
setelah diberi stimulus.
2.
Penguatan negatif
(Negative reinforcer) merupakan penguatan yang didasarkan pada prinsip bahwa
frekuensi dari respons meningkat diikuti oleh stimulus yang tidak menyenangkan,
misalnya usaha belajar meningkat dikarenakan untuk menghindari tugas-tugas
rumah.
3.
Hukuman (punishment)
adalah suatu konsekuensi yang menurunkan peluang, contohnya tugas bersih-bersih
dan kuantitas waktu bermain dikurangi.
Kelebihan teori
belajar (behaviorisme) adalah sebagai berikut:
1.
Sangat cocok
diterapkan kepada siswa atau anak yang masih membutuhkan dominasi orang tua.
2.
Pembelajaran dapat
mudah diarahkan dan diganti dengan stimulus-stimulus yang diinginkan.
3.
Pembelajaran mempunyai
orientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.
Kekurangan
teori belajar (behaviorisme) adalah sebagai berikut:
1.
Menyebabkan proses
pembelajaran yang tidak menyenangkan dan pendidik terkesan menjadi bersikap
otoriter kepada siswa.
2.
Pembelajaran hanya perpusat
pada guru sehingga pemikiran siswa tidak bisa berkembang secara lebih kreatif.
3.
Pemberian hukuman
dianggap menjadi pilihan yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teori belajar
Behavioristik adalah sebuah teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman. Dalam teori behaviorisme,
ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur,
dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama
teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Sari, Dini Komala. 2014. Tokoh-tokoh
Aliran Behavioristik. (online). https://dinikomalasari.wordpress.com/2014/04/04/tokoh-tokoh-aliran-behavioristik/.
Diakses pada 5 Desember 2019
Steviani. 2014. Model Pembeajaran
Behavioristik. (Online). http://stevianiboru.blogspot.co.id/2014/01/model-pembelajaran-behavioristik.html. Diakses pada 5 Desember 2019
Poetra, Adi. 2011. Model-model Pemblajaran. (Online). http://adipilomidonat.blogspot.co.id/2011/12/model-model-pembelajaran.html. Diakses pada 5 Desember 2019
.2014. Perbedaan Model Pembeajaran Teacher Center dan Student Center. (Online).
http://dagangankularis.blogspot.co.id/2014/12/perbedaan-model-pembelajaran-teacher.html.
Diakses pada 5 Desember 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar