Selasa, 14 April 2020

RESUME MATERI METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN


RESUME MATERI BAB I
SUMBER SUMBER PENGETAHUAN

Oleh : I Ketut Andika Pradnyana / 1929071003

Dalam sejarah manusia, ada banyak cara yang ditampuh dalam mencari jawaban atas persoalan yang mereka hadapi.
Sumber-sumber pengetahuan ini dikelompokkan menjadi lima:
1.      Pengalaman
2.      Otoritas
3.      Cara berpikir deduktif
4.      Cara berpikir induktif
5.      Pendekatan ilmiah

1.      Pengalaman
Pengalaman. Pengalaman adalah guru terbaik, itu kata orang bijak. Maka kita sebagai pebelajar akan suka melakukan berbagai kegiatan untuk memperoleh pengalaman. Pengalaman inilai sumber pengetahuan pertama. Jika kita hanya mendengar pasti lupa, melihat memang ingat tetapi tidak memahami, dan jika kita melakukan atau melalui pengalaman maka kita akan memahami, dan akhirnya jika kita mau berkaca dan mengoreksi diri, maka kita akan selalu mampu memperbaiki diri.
Pengalaman adalah sumber pengetahuan yang telah banyak diketahui dan digunakan orang. Berdasarkan pengalaman pribadi seseorang dapat menemukan jawaban atas banyak persoalan yang dihadapinya. Andaikata kita tidak dapat mengambil manfaat dari pengalaman itu, mungkin kemajuan akan sangat terlambat. Meski demikian pengalaman sebagai sumber kebenaran, mempunyai keterbatasan. Ada kalanya pengaruh suatu kejadian terhadap seseorang, akan bergantung kepada siapa orang itu. Dua oang yang mengalami situasi yang sama mungkin akan memperoleh pengalaman yang berbeda. Kelemahan lain dari pengalaman ialah bahwa seringkali seseorang perlu mengetahui hal-hal yang tidak dapat dipelajari/diketahui lewat pengalaman sendiri. Seorang guru, melalui pengalamannya, dapat mengetahui jumlah keseluruhan murid dalam suatu kelas pada suatu hari, tetapi ia tidak dapat menghitung secara pribadi jumlah penduduk Indonesia seluruhnya.

2.      Otoritas
Pemimpin memiliki informasi-informasi akurat dari staf-stafnya. Presiden, Gubernur, Bupati, atau jaman dahulu raja tentu memiliki tim lengkap yang memberi informasi lengkap kepada pemimpin. Bahkan kita diwajibkan taat kepada pemimpin, karena pemimpin yang baik memiliki informasi lengkap sehingga ia akan menjadi sumber pengetahuan. Pemimpin yang baik akan membuat keputusan berdasar informasi yang lengkap. Ia harus “Fusilat” memiliki informasi atau terjelaskan sehingga ia mampu membuat keputusan yang benar.
Wewenang atau otoritas maksudnya orang mencari jawaban peranyaan itu dari orang lain yang telah mempunyai pengalaman dalam al itu, atau yang mempunyai sumber keahlian lainnya. Apa yang dikerjakan oleh orang yang kita ketahui mempunyai wewenang itu, kita terima sebagai suatu kebenaran. Seseorang siswa akan membuka kamus untuk mengetahui arti kata-kata asing. Untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia misalnya, orang akan melihat laporan biro pusat statistic Indonesia. Walaupun wewenang merupakan salah satu sumber ilmu pengetahuan kita yang sangat berguna, kita tidak boleh melupakan pertanyaan, “ bagaimana orqang yang dianggap mempunyai wewenang itu mengetahui hal itu ?”. Erat hubungannya dengan wewenang adalah kebiasaan dan tradisi. Para pendidik menganggap praktek-praktek di masa lalu sebagai pedoman yang dapat dipercaya, tapi terungkap bahwa banyak tradisi yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya kemudian terbukti salah dan harus ditolak.
Kelemahan dari wewenang. Pertama, orang-orang yang berwenang itu juga bisqa salah, juga orang yang dianggap berwenang itu berbeda pendapat tentang beberapa masalah.

3.      Cara berpikir deduktif
Cara berpikir deduktif yang diperkenalan oleh Aroistoteles dan pengikutnya dirumuskan sebagi proses berpikir yag bertolah pada pernyataan yang sifatnya umum ke pernyataan yang bersifat khusus dengan memakai kaidah logika tertentu. Hal ini dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme, yang terdiri atas:
a. dasar pikiran utama (premis mayor)
b. dasar pikiran kedua (premis minor)
c. kesimpulan
dalam berpikir deduktif, jika dasar pikirannya benar, maka kesimpulan pasti benar. Karena memungkinkan seseorang menyusunpremis-premis menjadi pola-pola yang dapat memberikan bukti-bukti kuat bagi kesimpulan yang sahih (valid). Deduksi dari teori dapat menghasilkan hipotesis, suatu bagian vital dalam penyelidikan ilmiah.
Akan tetapi, juga memiliki keterbatasan. Kesimpulan silogisme tidak pernah melampaui isi premis-premisnya. Karena selalu merupakan perluasan dari pengetahuan yang sudah ada sebelumnya, sehingga dalam penyelidikan ilmiah sulit menentukan kebenaran universal dari berbagai penyataan mengenai gejala ilmiah.
Satu pendapat meragukan, dua pendapat memberi pertimbangan, dan pendapat dari banyak ahli akan emberikan pandangan yang sempurna dari berbagai sudut pandang dan inilah sumber pengetahuan. Para peneliti melakukan ini sebagai cara ia membangun konstruk variabel yang akan digunakan menyusun kerangka berpikir dan hipotesis sebagai teori sementara meskipun masih lemah atau jawaban sementara.Penyusunan penalaran deduktif menuntut kita menggunakan premis-premis yang benar, karena kesalahan menentukan premis, maka berdampak kekeliruan mengambil kesimpulan. Dalam konteks sintesis teori, maka harus mengambil dari pendapat para ahli yang satu bidang, sehingga tidak menimbulkan kekacauan dari berbagai sudut yang saling bertentangan.

4.      Cara berpikir induktif
Bila penalaran deduktif memperoleh kebenaran melalui pemilihan premis yang memenui kaidah, maka pengetahuan atau pemerolehan konfirmasi kebenaran induktif melalui pembuktian empiris di lapangan atau hasil pengamatan lapangan, sehingga dikatakan kebenaran empiris.persoalannya, bagaimana membuktikan secara empiris, tentu memerlukan berbagai prosedur yang menjamin kebenaran empiris tersebut.
Francis Bacon (1561-1626) berpendapat bahwa para pemikir hendaknya tidak merendahkan diri begitu saja dengan menerima premis orang yang punya otoritas sebagai kebenaran mutlak. Ia yakin seseorang penyelidik dapat membuat kesimpulan umum berdasarkan fakta yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Pendekatan ini dikenal sebagai cara berpikir induktif, yang merupakan kebalikan dari proses metode deduktif.
Kesimpulan induktif hanya dapat mutlak apabila kelompok yang menjadi objek itu kecil. Maka kita biasanya memakai induksi tak sempurna. Dalam sistem ini, orang mengamati sample suatu kelompok kemudian membuat kesimpulan tentang karakteristik seluruh kelompok itu berdasarkan sample tersebut. Sekalipun induksi tak-sempurna tidak memungkinkan kita mencapai kesimpulan yang tak bisa salah, induksi tak-sempurna ini dapat memberikan informasi meyakinkan yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan yang masuk akal.

5.      Pendekatan ilmiah
Pendekatan inilah yang harus dikuasai para akademisi yang memperoleh kebenaran melalui prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya secara logis tetapi sekaligus empiris.Bagaimana memperoleh pengetahuan melalui pendekatan ilmiah?Apa masalah, kita nyatakan dalam rumusan masalah yang diawali dengan menyampaikan kondisi ideal dan faktual hingga kita mampu mengidentfikasi sampai mendiagnosis berbagai sebab, letak, dan jenis masalah. Langkah ke dua adalah menyusun hipotesis yang diawali dengan pencarian kebenaran deduktif, antara lain: sintesis teori, sintesis penyelidikan awal, dan berdasar itu dirumuskanlah hipotesis. Berbekal hipotesis, mulailah kita bergerak untuk memperoleh kebenaran induktif yaitu pembuktian empiris melalui uji lapangan yang sebelumnya disusun instrumen, pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi hasil analisis data dan berdasar itu kita bisa mengkonfirmasi atau menolak data.
Penggunaan induksi secara eksklusif menyebabkan pengetahuan dan informasi terpisah-pisah, sehingga tidak banyak mendorong kemajuan pengetahuan. Sehingga muncul metode baru yaitu metode induktif-deduktif atau pendekatan ilmiah yang menggabungkan aspek-aspek paling penting dari metode induktif dan deduktif.
Pendekatan ilmiah biasanya dilukiskan sebagai proses dimana penyelidik secara induktif bertolak dari pengamatan mereka menuju hipotesis. Kemudian secara deduktif peneliti bergerak dari hipotesis ke implikasi logis hipotesis tersebut. Kemudian menarik kesimpulan mengenai akibat yang akan terjadi apabila hubungan yang diduga itu benar. Apabila implikasi yang diperoleh secara deduktif ini sesuai dengan pengetahuan yang sudah diterima kebenarannya, maka selanjutnya implikasi tersebut diuji dengan data empiris (yang dikumpulkan). Berdasarkan bukti-bukti ini, maka hipotesis ini dapat diterima atau ditolak.
Penggunaan hipotesis merupakan perbedaan utama antara pendekatan ilmiah dan cara berpikir induktif. Dengan cara induktif kita melakukan pengamatan terlebih dahulu dan baru kemudian menyusun informasi yang diperoleh. Pada umumnya dianggap bermanfaat kalau pendekatan ilmiah disajikan sebagai suatu rangkaian langkah yang harus diikuti. Perumusan secara pasti tentang langkah tersebut mungkin akan berbeda antara satu pengarang dengan pengarang yang lain.
Langkah langkah dalam pendekatan ilmiah adalah sebagai berikut:
1)      Perumusan masalah
Penyelidikan ilmiah bermula dari suatu masalah persoalan yang memerlukan pemecahan. Ciri penting suatu persoalan yang dapat diselidiki secara ilmiah, persoalan tersebut harus dapat dirumuskan sedemkian rupa, sehingga dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan di dunia ini.
2)      Pengajuan hipotesis
Hipotesis merupakan penjelasan sementara tentang masalah itu. Sehingga mengharuskan membaca bahan bacaan yang berkaitan dengan masalah itu dan berpikir lebih mendalam lagi.
3)      Cara berpikir deduktif
Melalui proses berpikir deduktif, implikasi hipotesis yang diajukan itu, yaitu apa yang akan diamati jika hipotesis tersebut benar ditetapkan.
4)      Pengumpulan dan analisis data
Hipotesis atau lebih tepatnya implikasi yang diperoleh melalui deduksi, diuji dengan jalan mengumpulkan data yang ada hubungannya dengan masalah yang diselidiki melalui pengamatan, tes, dan eksperimentasi.
5)      Penerimaan dan penolakan hipotesis
Setelah data dikumpulkan, maka hasilnya dianalisis untuk menetapkan apakah penyelidikan memberikan bukti-bukti yang mendukung hipotesis atau tidak. Sseseorang akan menyimpulkan bahwa bukt-bukti yang diperoleh mendukung atau tidak mendukung hipotesis.



Sikap Ilmuwan
Ilmuwan memiliki sikap dinamis, ia tidak mau begitu saja menerima pengetahuan sebelum ia mengujinya sendiri. Ilmuwan biasanya: (1) Doubters, ia meragukan segala hal sebelum ia membuktikannya sendiri, (2) Ia objektif dan tidak memihak, kebenaran diperoleh melalui langkah, bukan melalui pemihakan subjektif. (3) ideal dengan fakta bukan nilai. Ia mendasarkan pada temuan lapangan melalui observasi bukan karena ras hormat atau nilai-nilai persahabatan. Kebenaran adalah fakta, (4) integral; ia tak suka fakta terpisah, tetapi bagaimana ia mengintegrasikan dan menemukan fakta secara sistematis, ia bekerja secara sistemik.


RESUME MATERI BAB II
KONTEKS PENELITIAN SECARA UMUM
Oleh : I Ketut Andika Pradnyana / 1929071003

1.      Pengertian Masalah Penelitian
Pendapat Singh (2006); dan Sukardi (2009), dapat disimpulkan bahwa karakteristik masalah penelitian yang potensial dan signifikan dituntut memenuhi beberapa persyaratan yaitu dapat diteliti ; memiliki kontribusi signifikan; didukung data empiris; dan sesuai kemampuan peneliti. Menurut beberapa pandangan di atas dapat dikatakan bahwa masalah dalam penelitian, mengandung makna : adanya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan sesuatu yang dirasakan perlu adanya perubahan, proses yang tidak berjalan dengan baik, kesulitan yang harus dipecahkan, segera memerlukan jawaban, dan layak untuk diteliti.
prinsip-prinsip berdemokrasi pada kelompok subjek dan wilayah tertentu.

2.      Sumber Inspirasi Masalah Penelitian
            Sumber masalah penelitian yang sejati adalah alam semesta dengan segala isi dan semua fenomena yang ada di dalamnya. Seorang peneliti dianjurkan untuk mengarahkan perhatiannya dan menggunakan segala kemampuan yang dimiliki untuk melakukan identifikasi masalah masalah yang mungkin timbul diakibatkan oleh keberadaan dan laju perubahan serta dinamika yang terjadi pada alam semesta ini. Namun, perlu disadari bahwa untuk mengangkat permasalahan secara langsung dari pengalaman empiris dalam konteks kehidupan di alam semesta ini, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Hanya para ahli, pengamat, pendidik, dan praktisi yang terlatih dan berwawasan luaslah yang mampu mengidentifikasi berbagai kesenjangan yang terjadi di lingkungan dimana yang bersangkutan berada dan dijadikan permasalahan penelitian yang berbobot. Kekurang mampuan peneliti dalam hal ini, sering hanya akan menghasilkan masalah masalah penelitian yang dangkal, trivial dan parsial (isolated), serta kurang memiliki delta sumbangan yang signifikan, baik bagi pengembangan dan penerapan pada ranah teoretis maupun ranah empiris.

3.      Jenis-jenis data penelitian
Sumber diperolehnya data, sifat atau bentuk data, dan tipe skala pengukuranya. Jenis data berdasarkan sumber data. Berdasarkan sumber data dikelompokkan menajdi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang dikumpulkan atau diperoleh oleh peneliti secara langsung dari sumber data utama. Data sekunder merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada. Menurut Algifari (2003) data penelitian sekunder yaitu data yang diperoleh bukan dari objek atau subjek yang utama, tetapi melalui objek atau subjek yang kedua, baik secara langsung maupun tidak langsung.
a)      Data penelitian berdasarkna bentuk atau sifatnya. Dibedakan menjadi dua jenis yaitu data kuantitatif (berbentuk angka) dan kualitatif (berbentuk kata). Data kuantitatif dapat dikelompokkan berdasarkan sifat datanya yaitu data yang bersifat diskrit atau data yang bersifat kontinum. Data yang bersifat distrik yaitu data sebagai representasi atribut fenomena yang dilambangkan dalam bentuk angka yang diperoleh dengan cara menghitung. Data yang bersifat kontinum yaitu data sebagai representasi atribut fenomena yang dilambangkan dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara pengukuran.
b)      Data penelitian berdasarkan skala pengukurannya dibagi menjadi empat. data normal, menurut Hartono (2012) disebut dengan data diskrit atau data kategori. Data nominal merupakan data statistik yang cara penghitungannya diklasifikasikan dalam beberpa kategori saling lepas dan tuntas (exhoustive). Data ordinal, data statistik dengan menggunakan angka-angka dari pengukuran hasil yang tidak hanya sebagai sibol atribut, tetapi juga menunjukkan gradasi representasi kuantititas suatu atribut fenomena. Data interval yaitu data statistik dengan menggunakan angka sebagai lambang hasil pengukuran suatu atribut fenomena memiliki gradasi representasi kuantitas (tinggi, sedang, dan rendah) dan jarak interval ini dapat ditentukan dengan eksak tetapi tidak memiliki angka nol mutlak. Yang terakhir data rasio yaitu data statistik dengan menggunakan angka-angka sebagai representasi hasil pengukuran suatu atribut fenomena memiliki gradasi kuantitas (tinggi, sedang dan rendah) dan jarak interval dapat ditentukan dengan cara eksas yang bersifat mutlak (angka 0 = tidak ada).

4.      Metode Penelitian versus Metodologi Penelitian
Metode penelitian adalah tata cara bagaimana suatu penelitian akan dilaksanakan pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mengumpulkan data dengan tujuan tertentu cara penelitian itu didasarkan pada ciri keilmuan yaitu rasional,empiris dan sistematis. Metode Penelitian dapat juag didefinisikan sebagai suatu cara yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan  penelitiannya.
Penerapan  metode  penelitian  sangat menentukan  dalam  upaya  menghimpun  data  yang  diperlukan  dalam penelitian.  Yakni metode    penelitian  akan  memberikan  petunjuk  terhadap pelaksanaan penelitian, atau petunjuk bagaimana penelitian itu dilaksanakan, apa  yang  harus  digunakan  untuk  memperoleh  data  tersebut,  dimana memperolehnya dan lain-lain.
Metodologi penelitian berasal dari kata metodeyang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu dan logos yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan. Metodologi penelitian merupakan sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.
Hakekat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia  yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.
Penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistimatik, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini menghasilkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwa, tingkah laku, teori, dan hukum, serta membuka peluang bagi penerapan praktis dari pengetahuan tersebut. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan suatu koleksi informasi menyeluruh mengenai suatu subyek tertentu, dan biasanya dihubungkan dengan hasil dari suatu ilmu atau metode ilmiah. Penelitian sendiri berasal dari kata bahasa inggrisyang terdiri dari dua kata re yang berarti lagi atau kembali dan search yang berarti mencari atau menguji secara cermat dan hati-hati untuk mencoba atau membuktikan. Secara bersama-sama dua kata tersebut (research)berarti studi atau penyelidikan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis, sabar dalam satu bidang pengetahuan, yang dilakukan untuk menemukan fakta atau prinsip.

5.      Metode Ilmiah
Metode merupakan prosedur atau cara seseorang dalam melakukan suatu kegiatan untuk mempermudah memecahkan masalah secara teratur, sistematis, dan terkontrol. Ilmiah adalah sesuatu keilmuan untuk mendapatkan pengetahuan secara alami berdasarkan bukti yang akurat. Jadi metode ilmiah dapat di jabarkan lebih luas adalah suatu cara atau proses untuk mendapatkan pengetahuan berdasarkan cara keilmuan. Sedangkan metode memiliki arti lain yaitu suatu cara atau proses yang telah di pikirkan baik-baik dan teratur untuk mencapai suatu maksud (dalam ilmu pengetahuan). Ilmiah merupakan suatu hal yang berkaitan dengan ilmu. Bila di satukan metode ilmiah merupakan suatu proses yang di pikirkan dengan baik untuk mendapatkan suatu bukti ilmiah.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat di simpulkan bahwa metode ilmiah adalah proses atau cara untuk membuktikan suatu yang bersifat ilmiah dengan memecahkan masalah secara teratur dan memiliki konsep yang benar.
a)      Kegunaan Metode Ilmiah
Dengan adanya sikap dan metode ilmiah akan menghasilkan penemuan-penemuan yang berkualitas tinggi dan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan manusia. Beberapa kegunaan metode ilmiah dalam kehidupan manusia antara lain: 1. Membantu memecahkan permasalahan dengan pembuktian yang memuaskan. 2. Menguji hasil penelitian orang lain sehingga diperoleh kebenaran yang objektif. 3. Memecahkan atau menemukan jawaban rahasia alam yang jelas kebenarannya.
b)      Langkah-Langkah Metode Ilmiah
Tahapan yang dilakukan dalam metode Ilmiah adalah melakukan pengamatan (observasi), merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, memilih metode kerja, mengumpulkan data, membuat kesimpulan, publikasi. Beberapa hal di stas akan di jelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :
1)      Melakukan pengamatan(observasi)
Mengamati merupakan salah satu keterampilan proses yang mendasar. Keterampilan melakukukan observasi telah dikuasai apabila dapat mendeskripsikan suatu objek dan perubahannya secara kualitatif. Pengamatan kualitatif di lakukan dengan menggunakan indra penglihatan, pendengaran, pembau, peraba, dan pengecap tanpa mengacu kepada satuan pengukuran baku. Sebaliknya pengamatan yang di lakukan berdasarkan alat ukur kepada satuan pengukuran baku di sebut pengamatan kuantitatif. Hasil pengamatan sebaiknya di cantumkan di tabel, agar dapat memudahkan kita untuk mencatat informasi dari hasil pengamatan.
2)      Merumuskan masalah
Perumasan masalah dapat di lakukan dengan cara merumuska desain rancangan penelitian. Rancangan penelitian tersebut, antara lain memuat judul, tujuan penelitian, kesimpulan, dan kegunaan penelitian.
3)      Merumuskan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang harus di buktikan kebenarannya. Di dalam hipotesis selalu ada dua macam variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang di buat tidak sama dengan peneliti. Variabel terikat adalah variabel yang terjadi akibat perlakuan variabel bebas. Pernyataan dalam hipotesis menunjukan pengarus yang di berikan oleh variabel terikat.
4)      Memilih Metode Kerja
Metode kerja digunakan untuk memperoleh data dalam rangka membuktikan hipotesis.
5)      Mengumpulkan Data
Pengumpulan data berarti penggunaan instrumen yang telah di siapkan. Data tersebut kemudian di analisis dan hasilnya dapat mendukung atau menolak hipotesis.
6)      Membuat kesimpulan
Kesimpulan harus objektif bedasarkan fakta yang terkumpul selama penelitian. Kesimpulan suatu eksperimen dapat di anggap benar apabila eksprimen tersebut dapat di ulang dan mendapatkan kesimpulan yang sama. Tahapan dalam metode ilmiah tersebut di gunakan dalam berbagai penelitian ilmiah dan telah mengungkapkan fakta, penemuan, dan teori-teori ilmiah.
7)      Publikasi
Publikasi bertujuan untuk menginformasikan hasil penelitianyang sudah di peroleh kepada masyarakat atau peneliti yang lain.

  



RESUME MATERI BAB III
PERMASALAHAN PENELITIAN

Oleh : I Ketut Andika Pradnyana / 1929071003


1.      Pengertian Masalah dalam Penelitian
Seorang peneliti sebelum menentukan bagaimana penelitian bisa dilakukan, terlebih dahulu harus menentukan masalah apa saja yang bisa diteliti. Masalah penelitian bisa didefinisikan sebagai pernyataan yang mempermasalahkan suatu variabel atau hubungan antara variabel pada suatu fenomena. Sedangkan variabel didefinisikan sebagai pembeda antara sesuatu dengan yang lain. Masalah penelitian ini akan menentukan kwalitas penelitian yang akan dilakukan. Baik buruknya penelitian seseorang tergantung bagaimana seorang peneliti tersebut dapat mengidentifikasikan penelitian sebaik-baiknya. Menentukan masalah peneltian terkadang sulit, hal itu dikarenakan kurang faham akan permasalahan tersebut. Untuk menentukan permasalahan penelitian terlebih dahulu harus memahami sumber masalah. Sumber masalah tersebut bisa berasal dari manusia, program, dan fenomena di sekitar.
Terkadang kesalahan yang terjadi dalam penelitian adalah berangkat dari paradigm yang salah. Penelitian yang yang benar adalah dimulai dengan mencari dan mengidentifikasi permasalahan yang ada. Barulah setelah mendapatkan masalah yang jelas, penelitian di lakukan. Banyak di antara kita –terutama mahasiswa- ketika melakukan penelitian ilmiah, memulai dengan cara yang salah, yaitu menentukan judul baru kemudian menentukan permasalahan. Sebenarnya hal itni bukan permasalahan pokok, tetapi paradigm seperti ini perlu dibenarkan. Secara umum,  permasalahan adalah kesenjangan antara harapan/ideal/das sein dengan kenyataan/realitas/das sollen. Masalah penelitian berbeda dengan masalah-masalah  lainnya. Tidak semua masalah kehidupan dapat menjadi masalah penelitian. Masalah penelitian terjadi jika ada kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan kenyataan yang ada, antara apa yang diperlukan dengan yang tersedia antara harapan dan kenyataan. Kriteria permasalahan yang dimulai dari adanya kesenjangan ini biasanya  berbentuk penelitiandengan pendekatan kuantitatif. Sedangkan dalam penelitian kualitatif, permasalahan diperoleh dari adanya ketertarikan terhadap hal-hal yang unik dan memiliki nilai lebih yang pantas untuk diteliti.

2.      Kriteria Masalah Penelitian
Masalah yang telah dipilih sebaiknya dianalisis terlebih dahulu, agar hasil penelitian dapat dilakukan dengan baik, dari segi proses ataupun tujuannya. Analisis itu dapat dilihat dalam perspektif substansi, teori dan metode juga proses penelitian dan manfaat penelitian. Disamping itu, agar hasil penelitian benar-benar berarti dan bermakna (fungsional) sesuai dengan jenis dan tujuan penelitian itu sendiri.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih masalah penelitian.
a)      Memiliki nilai penelitian
Masalah yang akan dipecahkan akan berguna atau bermanfaat yang positif. Terutama jika bermanfaat bagi masyarakat dan kepentingan bersama.
b)      Memiliki fisibilitas
Fisibilitas artinya masalah tersebut dapat dipecahkan atau dijawab.
c)      Sesuai dengan kualitas peneliti
Sesuai dengan kualitas peneliti artinya tingkat kesulitan masalah disesuaikan dengan tingkat kemampuan peneliti.
d)     Actual
Aktual atau Up to date, artinya permasalahan yang akan diteliti adalah fakta perilaku yang sedang “hangat” terjadi di tengah masyarakat. Tentu saja aktualitas sebuah fakta perilaku akan selalu dinamis dan berubah setiap periode waktu tertentu. Permasalahan perilaku seks bebas remaja saat ini terasa lebih aktual dibandingkan perilaku agresif.
e)      Urgen
Urgen, artinya permasalahan yang diteliti haruslah sesuatu yang “mendesak” untuk diteliti. Dengan kata lain jika tidak segera ditemukan “jawabannya” akan dapat menimbulkan dampak-dampak negatif yang dapat merugikan kehidupan manusia. Perilaku rendahnya kepatuhan membayar pajak jika tidak segera diteliti akan menimbulkan dampak yang negatif, misalnya menurunnya penerimaan kas negara yang berakibat pada berkurangnya APBN untuk pembangunan sarana pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Rumusan masalah penelitian yang baik, antara lain:
a.    Bersifat orisinil, belum ada atau belum banyak orang lain yang meneliti masalah tersebut.
b.    Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan terhadap masyarakat.
c.    Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.
d.    Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah tersebut.
e.    Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
f.     Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat istiadat, ideologi, dan kepercayaan agama.
Supaya masalah penelitian yang kita pilih benar-benar tepat, biasanya masalah perlu dievaluasi. Evaluasi masalah penelitian harus berdasarkan beberapa parameter yaitu : (1) Menarik, (2) Bermanfaat, (3) Hal Yang Baru, (4) Dapat Diuji (Diukur), (5) Dapat   Dilaksanakan, (6)Merupakan Masalah Yang Penting, (7)Tidak Melanggar Etika.

3.      Identifikasi Masalah Penelitian
        Mengidentifikasi masalah bukan hal yang mudah dan bahkan mungkin dapat dianggap sebagai sesuatu pekerjaan yang paling sulit dalam suatu proses penelitian. Kesulitan tersebut masih bertambah karena tidak adanya formulasi yang pasti dalam hal bagaimana mencari permasalahan penelitian. Olehnya itu biasanya para peneliti selalu berkonsultasi dengan pembimbing atau sesama peneliti. Kesulitan mencari permasalahan biasanya juga tergantung pada ketajaman para peneliti itu sendiri dalam menyeleksi dan merasakan sesuatu yang dapat dimasukkan sebagai permasalahan. Mengidentifikasi masalah-masalah penelitian bukan sekedar mendaftar sejumlah masalah, tetapi kegiatan ini lebih daripada itu karena masalah yang telah dipilih hendaknya memiliki signifikansi untuk dipecahkan. Berdasarkan identifikasi terhadap masalah-masalah, maka peneliti menentukan skala prioritas yaitu menentukan masalah-masalah mana yang perlu segera dilakukan pemecahan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa identifikasi masalah merupakan upaya untuk mengelompokkan, mengurutkan sekaligus memetakkan masalah-masalah tersebut secara sistematis berdasarkan keahlian bidang peneliti. Bila daftar pertanyaan telah dibuat dan disusun sesuai urutan yang paling mendasar, maka perlu dipilih dan ditemukan (identifikasi) masalah yang laik untuk dilakukan penelitian dan dicari jawabannya. Laik tidaknya suatu masalah yang diteliti tergantung ketajaman dan kemandirian ( kepekaan, kesiapan dan ketekunan) peneliti yang bersangkutan. Identifikasi masalah perlu memperhatikan apakah masalah/ fokus yang dipilih cukup: (1) esensial/ menduduki urutan paling penting diantara masalah-masalah yang ada, (2) urgen/mendesak untuk dipecahkan, (3) bermanfaat bila dipecahkan.
Dalam dunia pendidikan masalah yang ditemukan/teridentifikasi dapat dikelompokkan menjadi 5, yaitu: proses pembelajaran, siswa, guru, hasil belajar (output) dan hasil belajar jangka panjang (outcome). Walaupun dari proses identikasi masalah telah berhasil ditemukan satu masalah, ternyata masih perlu mempertimbangkan beberapa hal untuk menjadikannya sebagai fokus penelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah minat/motivasi/dorongan peneliti, kemampuan peneliti, lokasi penelitian, sumber data (populasi dan sampel), waktu, pendekatan/metode yang digunakan, buku sumber yang tersedia, etika dan birokrasi. Bila kesemua hal tersebut telah terpenuhi maka suatu fokus masalah dapat dijadikan sebagai masalah penelitian untuk dicari jawabannya.

4.      Analisis Masalah Penelitian
Secara garis besar, ada beberapa bentuk analisis yang perlu diperhatikan :
a.       Analisis Substansi Masalah
Analisis substansi masalah itu sendiri. Masalah yang dipilih memiliki relevansi akademik dalam arti termasuk bidang keilmuan apa; misalnya sosiologi, antropologi, filologi, manajemen, teologi dan sebagainya. Dengan mengetahui kedudukan masalah dalam konteks keilmuan yang ada, peneliti dapat menelusuri dan mendalami permasalahan itu dan menempatkannya dalam pokok bahasan atau sub pokok bahasan bidang ilmu tersebut. Dengan cara ini peneliti dengan mantap memiliki pangkal tolak dan sudut pandang keilmuan yang ada.
b.      Analisis Teori Dan Metode
Peneliti hendaknya senantiasa menyadari bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya didasarkan atas upaya menemukan teori dari dasar sebagai acuan utama. Oleh karena itu, setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti masalahnya. Maka, perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran untuk memberikan gambaran atau batasan-batasan tentang teori-teori yang akan dipakai sebagai landasan penelitian yang akan digunakan. Uraian dalam menganalisis teori merupakan hasil berpikir rasional yang dituangkan secara tertulis meliputi aspek-aspek yang terdapat di dalam masalah atau sub masalah yang akan diteliti. Masalah yang diteliti hendaknya dapat dicari rujukan kepustakaan, perspektif teoritik dan metodenya. Dengan pertimbangan ini dapat ditelusuri kajian kepustakaan baik berupa buku jurnal maupun hasil penelitian terdahulu, penelitian semakin tajam dan terarah dalam memfokuskan penelitiannya. Perspektif teoritik bermanfaat bagi peneliti agar penelitian yang dilakukan memiliki starting point dan point of view yang jelas sehingga peneliti akan semakin peka dan kritis dalam mencermati setiap fenomena.
c.       Analis Institusional
Jenis, bobot dan tujuan penelitian hendaknya disesuaikan dengan institusi mana peneliti memperpersembahkan penelitiannya. Penelitian untuk persyaratan memperoleh gelar akademik tentu berbeda dengan penelitian pesanan atau penelitian tindakan (action research). Penelitian untuk skripsi tentu memiliki kulalifikasi yang berbeda dengan tesis atau disertasi. Perbedaan bisa terletak pada substansinya, seperti kedalaman, keluasan, keaslian, kejelasan, keutuhan masalah yang diangkat; atau pada metodologinya seperti perspektif teoritik dan analisisnya; maupun pada teknik penulisan atau pelaporannya.
d.      Analisis Metodologis
Masalah yang diangkat hendaknya terjangkau, baik dari aspek metode pengumpulan data maupun datanya itu sendiri. Penelitian yang melibatkan para elite biasanya lebih sulit dilakukan daripada masyarakat awam, maupun agama, lebih sedikit jumlahnya. Penelitian tentang keuangan biasanya juga lebih sedikit karena datanya sulit dicari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengajar Mahasiswa S1 Kebidanan

I explain about website and the use of website as personal branding doc. Andika Pradnyana (2025)