RESUME
MATERI BAB I
SUMBER
SUMBER PENGETAHUAN
Oleh : I Ketut Andika Pradnyana /
1929071003
Dalam sejarah manusia,
ada banyak cara yang ditampuh dalam mencari jawaban atas persoalan yang mereka
hadapi.
Sumber-sumber pengetahuan ini
dikelompokkan menjadi lima:
1.
Pengalaman
2.
Otoritas
3.
Cara berpikir deduktif
4.
Cara berpikir induktif
5.
Pendekatan ilmiah
1. Pengalaman
Pengalaman. Pengalaman
adalah guru terbaik, itu kata orang bijak. Maka kita sebagai pebelajar akan
suka melakukan berbagai kegiatan untuk memperoleh pengalaman. Pengalaman inilai
sumber pengetahuan pertama. Jika kita hanya mendengar pasti lupa, melihat
memang ingat tetapi tidak memahami, dan jika kita melakukan atau melalui
pengalaman maka kita akan memahami, dan akhirnya jika kita mau berkaca dan mengoreksi
diri, maka kita akan selalu mampu memperbaiki diri.
Pengalaman adalah
sumber pengetahuan yang telah banyak diketahui dan digunakan orang. Berdasarkan
pengalaman pribadi seseorang dapat menemukan jawaban atas banyak persoalan yang
dihadapinya. Andaikata kita tidak dapat mengambil manfaat dari pengalaman itu,
mungkin kemajuan akan sangat terlambat. Meski demikian pengalaman sebagai
sumber kebenaran, mempunyai keterbatasan. Ada kalanya pengaruh suatu kejadian
terhadap seseorang, akan bergantung kepada siapa orang itu. Dua oang yang
mengalami situasi yang sama mungkin akan memperoleh pengalaman yang berbeda.
Kelemahan lain dari pengalaman ialah bahwa seringkali seseorang perlu
mengetahui hal-hal yang tidak dapat dipelajari/diketahui lewat pengalaman sendiri.
Seorang guru, melalui pengalamannya, dapat mengetahui jumlah keseluruhan murid
dalam suatu kelas pada suatu hari, tetapi ia tidak dapat menghitung secara
pribadi jumlah penduduk Indonesia seluruhnya.
2. Otoritas
Pemimpin memiliki
informasi-informasi akurat dari staf-stafnya. Presiden, Gubernur, Bupati, atau
jaman dahulu raja tentu memiliki tim lengkap yang memberi informasi lengkap
kepada pemimpin. Bahkan kita diwajibkan taat kepada pemimpin, karena pemimpin
yang baik memiliki informasi lengkap sehingga ia akan menjadi sumber
pengetahuan. Pemimpin yang baik akan membuat keputusan berdasar informasi yang
lengkap. Ia harus “Fusilat” memiliki informasi atau terjelaskan sehingga ia
mampu membuat keputusan yang benar.
Wewenang atau otoritas
maksudnya orang mencari jawaban peranyaan itu dari orang lain yang telah
mempunyai pengalaman dalam al itu, atau yang mempunyai sumber keahlian lainnya.
Apa yang dikerjakan oleh orang yang kita ketahui mempunyai wewenang itu, kita terima
sebagai suatu kebenaran. Seseorang siswa akan membuka kamus untuk mengetahui
arti kata-kata asing. Untuk mengetahui jumlah penduduk Indonesia misalnya,
orang akan melihat laporan biro pusat statistic Indonesia. Walaupun wewenang
merupakan salah satu sumber ilmu pengetahuan kita yang sangat berguna, kita
tidak boleh melupakan pertanyaan, “ bagaimana orqang yang dianggap mempunyai
wewenang itu mengetahui hal itu ?”. Erat hubungannya dengan wewenang adalah
kebiasaan dan tradisi. Para pendidik menganggap praktek-praktek di masa lalu
sebagai pedoman yang dapat dipercaya, tapi terungkap bahwa banyak tradisi yang
telah berlangsung bertahun-tahun lamanya kemudian terbukti salah dan harus
ditolak.
Kelemahan dari
wewenang. Pertama, orang-orang yang berwenang itu juga bisqa salah, juga orang
yang dianggap berwenang itu berbeda pendapat tentang beberapa masalah.
3. Cara berpikir deduktif
Cara berpikir deduktif
yang diperkenalan oleh Aroistoteles dan pengikutnya dirumuskan sebagi proses
berpikir yag bertolah pada pernyataan yang sifatnya umum ke pernyataan yang
bersifat khusus dengan memakai kaidah logika tertentu. Hal ini dilakukan
melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme, yang terdiri atas:
a. dasar pikiran utama
(premis mayor)
b. dasar pikiran kedua
(premis minor)
c. kesimpulan
dalam berpikir deduktif, jika dasar
pikirannya benar, maka kesimpulan pasti benar. Karena memungkinkan seseorang
menyusunpremis-premis menjadi pola-pola yang dapat memberikan bukti-bukti kuat
bagi kesimpulan yang sahih (valid). Deduksi dari teori dapat menghasilkan
hipotesis, suatu bagian vital dalam penyelidikan ilmiah.
Akan tetapi, juga
memiliki keterbatasan. Kesimpulan silogisme tidak pernah melampaui isi
premis-premisnya. Karena selalu merupakan perluasan dari pengetahuan yang sudah
ada sebelumnya, sehingga dalam penyelidikan ilmiah sulit menentukan kebenaran
universal dari berbagai penyataan mengenai gejala ilmiah.
Satu pendapat
meragukan, dua pendapat memberi pertimbangan, dan pendapat dari banyak ahli
akan emberikan pandangan yang sempurna dari berbagai sudut pandang dan inilah
sumber pengetahuan. Para peneliti melakukan ini sebagai cara ia membangun
konstruk variabel yang akan digunakan menyusun kerangka berpikir dan hipotesis
sebagai teori sementara meskipun masih lemah atau jawaban sementara.Penyusunan
penalaran deduktif menuntut kita menggunakan premis-premis yang benar, karena
kesalahan menentukan premis, maka berdampak kekeliruan mengambil kesimpulan.
Dalam konteks sintesis teori, maka harus mengambil dari pendapat para ahli yang
satu bidang, sehingga tidak menimbulkan kekacauan dari berbagai sudut yang
saling bertentangan.
4. Cara berpikir induktif
Bila penalaran deduktif
memperoleh kebenaran melalui pemilihan premis yang memenui kaidah, maka
pengetahuan atau pemerolehan konfirmasi kebenaran induktif melalui pembuktian
empiris di lapangan atau hasil pengamatan lapangan, sehingga dikatakan
kebenaran empiris.persoalannya, bagaimana membuktikan secara empiris, tentu
memerlukan berbagai prosedur yang menjamin kebenaran empiris tersebut.
Francis Bacon
(1561-1626) berpendapat bahwa para pemikir hendaknya tidak merendahkan diri
begitu saja dengan menerima premis orang yang punya otoritas sebagai kebenaran
mutlak. Ia yakin seseorang penyelidik dapat membuat kesimpulan umum berdasarkan
fakta yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Pendekatan ini dikenal
sebagai cara berpikir induktif, yang merupakan kebalikan dari proses metode
deduktif.
Kesimpulan induktif
hanya dapat mutlak apabila kelompok yang menjadi objek itu kecil. Maka kita
biasanya memakai induksi tak sempurna. Dalam sistem ini, orang mengamati sample
suatu kelompok kemudian membuat kesimpulan tentang karakteristik seluruh
kelompok itu berdasarkan sample tersebut. Sekalipun induksi tak-sempurna tidak
memungkinkan kita mencapai kesimpulan yang tak bisa salah, induksi tak-sempurna
ini dapat memberikan informasi meyakinkan yang dapat dijadikan dasar untuk
membuat keputusan yang masuk akal.
5. Pendekatan ilmiah
Pendekatan inilah yang
harus dikuasai para akademisi yang memperoleh kebenaran melalui prosedur yang
dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya secara logis tetapi sekaligus
empiris.Bagaimana memperoleh pengetahuan melalui pendekatan ilmiah?Apa masalah,
kita nyatakan dalam rumusan masalah yang diawali dengan menyampaikan kondisi
ideal dan faktual hingga kita mampu mengidentfikasi sampai mendiagnosis
berbagai sebab, letak, dan jenis masalah. Langkah ke dua adalah menyusun
hipotesis yang diawali dengan pencarian kebenaran deduktif, antara lain:
sintesis teori, sintesis penyelidikan awal, dan berdasar itu dirumuskanlah
hipotesis. Berbekal hipotesis, mulailah kita bergerak untuk memperoleh
kebenaran induktif yaitu pembuktian empiris melalui uji lapangan yang
sebelumnya disusun instrumen, pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi
hasil analisis data dan berdasar itu kita bisa mengkonfirmasi atau menolak
data.
Penggunaan induksi
secara eksklusif menyebabkan pengetahuan dan informasi terpisah-pisah, sehingga
tidak banyak mendorong kemajuan pengetahuan. Sehingga muncul metode baru yaitu
metode induktif-deduktif atau pendekatan ilmiah yang menggabungkan aspek-aspek
paling penting dari metode induktif dan deduktif.
Pendekatan ilmiah
biasanya dilukiskan sebagai proses dimana penyelidik secara induktif bertolak
dari pengamatan mereka menuju hipotesis. Kemudian secara deduktif peneliti
bergerak dari hipotesis ke implikasi logis hipotesis tersebut. Kemudian menarik
kesimpulan mengenai akibat yang akan terjadi apabila hubungan yang diduga itu
benar. Apabila implikasi yang diperoleh secara deduktif ini sesuai dengan
pengetahuan yang sudah diterima kebenarannya, maka selanjutnya implikasi
tersebut diuji dengan data empiris (yang dikumpulkan). Berdasarkan bukti-bukti
ini, maka hipotesis ini dapat diterima atau ditolak.
Penggunaan hipotesis
merupakan perbedaan utama antara pendekatan ilmiah dan cara berpikir induktif.
Dengan cara induktif kita melakukan pengamatan terlebih dahulu dan baru
kemudian menyusun informasi yang diperoleh. Pada umumnya dianggap bermanfaat
kalau pendekatan ilmiah disajikan sebagai suatu rangkaian langkah yang harus
diikuti. Perumusan secara pasti tentang langkah tersebut mungkin akan berbeda
antara satu pengarang dengan pengarang yang lain.
Langkah langkah dalam
pendekatan ilmiah adalah sebagai berikut:
1) Perumusan
masalah
Penyelidikan ilmiah bermula dari
suatu masalah persoalan yang memerlukan pemecahan. Ciri penting suatu persoalan
yang dapat diselidiki secara ilmiah, persoalan tersebut harus dapat dirumuskan
sedemkian rupa, sehingga dapat dijawab dengan pengamatan dan percobaan di dunia
ini.
2) Pengajuan
hipotesis
Hipotesis merupakan penjelasan
sementara tentang masalah itu. Sehingga mengharuskan membaca bahan bacaan yang
berkaitan dengan masalah itu dan berpikir lebih mendalam lagi.
3) Cara
berpikir deduktif
Melalui proses berpikir deduktif,
implikasi hipotesis yang diajukan itu, yaitu apa yang akan diamati jika
hipotesis tersebut benar ditetapkan.
4) Pengumpulan
dan analisis data
Hipotesis atau lebih tepatnya
implikasi yang diperoleh melalui deduksi, diuji dengan jalan mengumpulkan data
yang ada hubungannya dengan masalah yang diselidiki melalui pengamatan, tes,
dan eksperimentasi.
5) Penerimaan
dan penolakan hipotesis
Setelah data dikumpulkan, maka
hasilnya dianalisis untuk menetapkan apakah penyelidikan memberikan bukti-bukti
yang mendukung hipotesis atau tidak. Sseseorang akan menyimpulkan bahwa
bukt-bukti yang diperoleh mendukung atau tidak mendukung hipotesis.
Sikap
Ilmuwan
Ilmuwan memiliki sikap
dinamis, ia tidak mau begitu saja menerima pengetahuan sebelum ia mengujinya
sendiri. Ilmuwan biasanya: (1) Doubters, ia meragukan segala hal sebelum ia
membuktikannya sendiri, (2) Ia objektif dan tidak memihak, kebenaran diperoleh
melalui langkah, bukan melalui pemihakan subjektif. (3) ideal dengan fakta
bukan nilai. Ia mendasarkan pada temuan lapangan melalui observasi bukan karena
ras hormat atau nilai-nilai persahabatan. Kebenaran adalah fakta, (4) integral;
ia tak suka fakta terpisah, tetapi bagaimana ia mengintegrasikan dan menemukan
fakta secara sistematis, ia bekerja secara sistemik.
RESUME
MATERI BAB II
KONTEKS PENELITIAN SECARA UMUM
Oleh : I Ketut Andika Pradnyana /
1929071003
1.
Pengertian
Masalah Penelitian
Pendapat Singh (2006);
dan Sukardi (2009), dapat disimpulkan bahwa karakteristik masalah penelitian
yang potensial dan signifikan dituntut memenuhi beberapa persyaratan yaitu
dapat diteliti ; memiliki kontribusi signifikan; didukung data empiris; dan
sesuai kemampuan peneliti. Menurut beberapa pandangan di atas dapat dikatakan
bahwa masalah dalam penelitian, mengandung makna : adanya ketidaksesuaian
antara harapan dan kenyataan sesuatu yang dirasakan perlu adanya perubahan,
proses yang tidak berjalan dengan baik, kesulitan yang harus dipecahkan, segera
memerlukan jawaban, dan layak untuk diteliti.
prinsip-prinsip berdemokrasi pada kelompok subjek dan
wilayah tertentu.
2.
Sumber
Inspirasi Masalah Penelitian
Sumber masalah penelitian yang sejati adalah alam semesta
dengan segala isi dan semua fenomena yang ada di dalamnya. Seorang peneliti
dianjurkan untuk mengarahkan perhatiannya dan menggunakan segala kemampuan yang
dimiliki untuk melakukan identifikasi masalah masalah yang mungkin timbul
diakibatkan oleh keberadaan dan laju perubahan serta dinamika yang terjadi pada
alam semesta ini. Namun, perlu disadari bahwa untuk mengangkat permasalahan
secara langsung dari pengalaman empiris dalam konteks kehidupan di alam semesta
ini, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Hanya para ahli, pengamat, pendidik,
dan praktisi yang terlatih dan berwawasan luaslah yang mampu mengidentifikasi berbagai
kesenjangan yang terjadi di lingkungan dimana yang bersangkutan berada dan
dijadikan permasalahan penelitian yang berbobot. Kekurang mampuan peneliti
dalam hal ini, sering hanya akan menghasilkan masalah masalah penelitian yang
dangkal, trivial dan parsial (isolated),
serta kurang memiliki delta sumbangan
yang signifikan, baik bagi pengembangan dan penerapan pada ranah teoretis
maupun ranah empiris.
3.
Jenis-jenis
data penelitian
Sumber diperolehnya
data, sifat atau bentuk data, dan tipe skala pengukuranya. Jenis data
berdasarkan sumber data. Berdasarkan sumber data dikelompokkan menajdi dua,
yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang
dikumpulkan atau diperoleh oleh peneliti secara langsung dari sumber data
utama. Data sekunder merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti
dari berbagai sumber yang telah ada. Menurut Algifari (2003) data penelitian
sekunder yaitu data yang diperoleh bukan dari objek atau subjek yang utama,
tetapi melalui objek atau subjek yang kedua, baik secara langsung maupun tidak
langsung.
a)
Data
penelitian berdasarkna bentuk atau sifatnya.
Dibedakan menjadi dua jenis yaitu data kuantitatif (berbentuk angka) dan
kualitatif (berbentuk kata). Data kuantitatif dapat dikelompokkan berdasarkan
sifat datanya yaitu data yang bersifat diskrit atau data yang bersifat
kontinum. Data yang bersifat distrik yaitu
data sebagai representasi atribut fenomena yang dilambangkan dalam bentuk angka
yang diperoleh dengan cara menghitung. Data
yang bersifat kontinum yaitu data sebagai representasi atribut fenomena
yang dilambangkan dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara
pengukuran.
b)
Data
penelitian berdasarkan skala pengukurannya
dibagi menjadi empat. data normal, menurut
Hartono (2012) disebut dengan data diskrit atau data kategori. Data nominal
merupakan data statistik yang cara penghitungannya diklasifikasikan dalam
beberpa kategori saling lepas dan tuntas (exhoustive).
Data ordinal, data statistik dengan
menggunakan angka-angka dari pengukuran hasil yang tidak hanya sebagai sibol
atribut, tetapi juga menunjukkan gradasi representasi kuantititas suatu atribut
fenomena. Data interval
yaitu data statistik dengan menggunakan angka sebagai lambang hasil pengukuran
suatu atribut fenomena memiliki gradasi representasi kuantitas (tinggi, sedang,
dan rendah) dan jarak interval ini dapat ditentukan dengan eksak tetapi tidak
memiliki angka nol mutlak. Yang terakhir
data rasio yaitu data statistik dengan menggunakan angka-angka sebagai
representasi hasil pengukuran suatu atribut fenomena memiliki gradasi kuantitas
(tinggi, sedang dan rendah) dan jarak interval dapat ditentukan dengan cara
eksas yang bersifat mutlak (angka 0 = tidak ada).
4.
Metode Penelitian versus Metodologi Penelitian
Metode penelitian adalah tata cara
bagaimana suatu penelitian akan dilaksanakan pada dasarnya merupakan cara
ilmiah untuk mengumpulkan data dengan tujuan tertentu cara penelitian itu
didasarkan pada ciri keilmuan yaitu rasional,empiris dan sistematis. Metode
Penelitian dapat juag didefinisikan sebagai suatu cara
yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan penelitiannya.
Penerapan metode
penelitian sangat menentukan dalam upaya
menghimpun data yang diperlukan dalam penelitian.
Yakni metode penelitian akan memberikan
petunjuk terhadap pelaksanaan penelitian, atau petunjuk bagaimana
penelitian itu dilaksanakan, apa yang harus digunakan
untuk memperoleh data tersebut, dimana memperolehnya
dan lain-lain.
Metodologi
penelitian berasal dari kata metodeyang artinya cara yang tepat untuk
melakukan sesuatu dan logos yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi
metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara
seksama untuk mencapai suatu tujuan. Metodologi penelitian merupakan sekumpulan
peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin
ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau
metode. Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk
meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis
dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.
Hakekat
penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong
penelitian untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang
berbeda, di antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing.
Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu
bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha
untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan
pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia
yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.
Penelitian
sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan
aktif, tekun, dan sistimatik, yang bertujuan untuk menemukan,
menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini
menghasilkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwa,
tingkah laku, teori, dan hukum, serta membuka peluang bagi penerapan praktis
dari pengetahuan tersebut. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan suatu
koleksi informasi menyeluruh mengenai suatu subyek tertentu, dan biasanya dihubungkan
dengan hasil dari suatu ilmu atau metode ilmiah. Penelitian sendiri berasal
dari kata bahasa inggrisyang terdiri dari dua kata re yang berarti lagi
atau kembali dan search yang berarti mencari atau menguji secara cermat dan
hati-hati untuk mencoba atau membuktikan. Secara bersama-sama dua kata tersebut
(research)berarti studi atau penyelidikan yang dilakukan secara
hati-hati, sistematis, sabar dalam satu bidang pengetahuan, yang dilakukan
untuk menemukan fakta atau prinsip.
5. Metode Ilmiah
Metode
merupakan prosedur atau cara seseorang dalam melakukan suatu kegiatan untuk
mempermudah memecahkan masalah secara teratur, sistematis, dan terkontrol.
Ilmiah adalah sesuatu keilmuan untuk mendapatkan pengetahuan secara alami
berdasarkan bukti yang akurat. Jadi metode ilmiah dapat di jabarkan lebih luas
adalah suatu cara atau proses untuk mendapatkan pengetahuan berdasarkan cara
keilmuan. Sedangkan metode memiliki arti lain yaitu suatu cara atau proses yang
telah di pikirkan baik-baik dan teratur untuk mencapai suatu maksud (dalam ilmu
pengetahuan). Ilmiah merupakan suatu hal yang berkaitan dengan ilmu. Bila di
satukan metode ilmiah merupakan suatu proses yang di pikirkan dengan baik untuk
mendapatkan suatu bukti ilmiah.
Berdasarkan
pernyataan diatas dapat di simpulkan bahwa metode ilmiah adalah proses atau
cara untuk membuktikan suatu yang bersifat ilmiah dengan memecahkan masalah
secara teratur dan memiliki konsep yang benar.
a)
Kegunaan
Metode Ilmiah
Dengan adanya sikap dan metode ilmiah akan menghasilkan
penemuan-penemuan yang berkualitas tinggi dan dapat membantu meningkatkan
kesejahteraan manusia. Beberapa
kegunaan metode ilmiah dalam kehidupan manusia antara lain: 1. Membantu
memecahkan permasalahan dengan pembuktian yang memuaskan. 2. Menguji hasil
penelitian orang lain sehingga diperoleh kebenaran yang objektif. 3. Memecahkan
atau menemukan jawaban rahasia alam yang jelas kebenarannya.
b)
Langkah-Langkah
Metode Ilmiah
Tahapan yang dilakukan dalam metode Ilmiah adalah melakukan
pengamatan (observasi), merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, memilih
metode kerja, mengumpulkan data, membuat kesimpulan, publikasi. Beberapa hal di
stas akan di jelaskan secara lebih rinci sebagai berikut :
1)
Melakukan
pengamatan(observasi)
Mengamati
merupakan salah satu keterampilan proses yang mendasar. Keterampilan
melakukukan observasi telah dikuasai apabila dapat mendeskripsikan suatu objek
dan perubahannya secara kualitatif. Pengamatan kualitatif di lakukan dengan
menggunakan indra penglihatan, pendengaran, pembau, peraba, dan pengecap tanpa
mengacu kepada satuan pengukuran baku. Sebaliknya
pengamatan yang di lakukan berdasarkan alat ukur kepada satuan pengukuran baku
di sebut pengamatan kuantitatif. Hasil
pengamatan sebaiknya di cantumkan di tabel, agar dapat memudahkan kita untuk
mencatat informasi dari hasil pengamatan.
2) Merumuskan masalah
Perumasan masalah dapat di lakukan dengan cara merumuska desain rancangan
penelitian. Rancangan penelitian tersebut, antara lain memuat judul, tujuan
penelitian, kesimpulan, dan kegunaan penelitian.
3) Merumuskan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang harus
di buktikan kebenarannya. Di dalam hipotesis selalu ada dua macam variabel,
yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas adalah variabel yang
di buat tidak sama dengan peneliti. Variabel terikat adalah variabel yang
terjadi akibat perlakuan variabel bebas. Pernyataan dalam hipotesis menunjukan
pengarus yang di berikan oleh variabel terikat.
4) Memilih Metode Kerja
Metode kerja digunakan untuk memperoleh data dalam rangka membuktikan
hipotesis.
5) Mengumpulkan Data
Pengumpulan data berarti penggunaan instrumen yang telah di siapkan.
Data tersebut kemudian di analisis dan hasilnya dapat mendukung atau menolak
hipotesis.
6) Membuat kesimpulan
Kesimpulan harus objektif bedasarkan fakta yang terkumpul selama
penelitian. Kesimpulan suatu eksperimen dapat di anggap benar apabila eksprimen
tersebut dapat di ulang dan mendapatkan kesimpulan yang sama. Tahapan dalam
metode ilmiah tersebut di gunakan dalam berbagai penelitian ilmiah dan telah
mengungkapkan fakta, penemuan, dan teori-teori ilmiah.
7) Publikasi
Publikasi bertujuan untuk menginformasikan hasil penelitianyang sudah di
peroleh kepada masyarakat atau peneliti yang lain.
RESUME
MATERI BAB III
PERMASALAHAN
PENELITIAN
Oleh
: I Ketut Andika Pradnyana / 1929071003
1. Pengertian Masalah dalam Penelitian
Seorang peneliti
sebelum menentukan bagaimana penelitian bisa dilakukan, terlebih dahulu harus
menentukan masalah apa saja yang bisa diteliti. Masalah penelitian bisa
didefinisikan sebagai pernyataan yang mempermasalahkan suatu variabel atau
hubungan antara variabel pada suatu fenomena. Sedangkan variabel didefinisikan
sebagai pembeda antara sesuatu dengan yang lain. Masalah penelitian ini akan
menentukan kwalitas penelitian yang akan dilakukan. Baik buruknya penelitian
seseorang tergantung bagaimana seorang peneliti tersebut dapat
mengidentifikasikan penelitian sebaik-baiknya. Menentukan masalah peneltian
terkadang sulit, hal itu dikarenakan kurang faham akan permasalahan tersebut.
Untuk menentukan permasalahan penelitian terlebih dahulu harus memahami sumber
masalah. Sumber masalah tersebut bisa berasal dari manusia, program, dan
fenomena di sekitar.
Terkadang kesalahan
yang terjadi dalam penelitian adalah berangkat dari paradigm yang salah.
Penelitian yang yang benar adalah dimulai dengan mencari dan mengidentifikasi
permasalahan yang ada. Barulah setelah mendapatkan masalah yang jelas,
penelitian di lakukan. Banyak di antara kita –terutama mahasiswa- ketika
melakukan penelitian ilmiah, memulai dengan cara yang salah, yaitu menentukan
judul baru kemudian menentukan permasalahan. Sebenarnya hal itni bukan
permasalahan pokok, tetapi paradigm seperti ini perlu dibenarkan. Secara umum, permasalahan adalah kesenjangan antara
harapan/ideal/das sein dengan kenyataan/realitas/das sollen. Masalah penelitian
berbeda dengan masalah-masalah lainnya.
Tidak semua masalah kehidupan dapat menjadi masalah penelitian. Masalah
penelitian terjadi jika ada kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan
kenyataan yang ada, antara apa yang diperlukan dengan yang tersedia antara
harapan dan kenyataan. Kriteria permasalahan yang dimulai dari adanya
kesenjangan ini biasanya berbentuk
penelitiandengan pendekatan kuantitatif. Sedangkan dalam penelitian kualitatif,
permasalahan diperoleh dari adanya ketertarikan terhadap hal-hal yang unik dan
memiliki nilai lebih yang pantas untuk diteliti.
2. Kriteria Masalah Penelitian
Masalah yang telah
dipilih sebaiknya dianalisis terlebih dahulu, agar hasil penelitian dapat
dilakukan dengan baik, dari segi proses ataupun tujuannya. Analisis itu dapat
dilihat dalam perspektif substansi, teori dan metode juga proses penelitian dan
manfaat penelitian. Disamping itu, agar hasil penelitian benar-benar berarti
dan bermakna (fungsional) sesuai dengan jenis dan tujuan penelitian itu
sendiri.
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam memilih masalah penelitian.
a)
Memiliki nilai penelitian
Masalah
yang akan dipecahkan akan berguna atau bermanfaat yang positif. Terutama jika
bermanfaat bagi masyarakat dan kepentingan bersama.
b)
Memiliki fisibilitas
Fisibilitas
artinya masalah tersebut dapat dipecahkan atau dijawab.
c)
Sesuai dengan kualitas peneliti
Sesuai
dengan kualitas peneliti artinya tingkat kesulitan masalah disesuaikan dengan
tingkat kemampuan peneliti.
d)
Actual
Aktual
atau Up to date, artinya permasalahan yang akan diteliti adalah fakta perilaku
yang sedang “hangat” terjadi di tengah masyarakat. Tentu saja aktualitas sebuah
fakta perilaku akan selalu dinamis dan berubah setiap periode waktu tertentu.
Permasalahan perilaku seks bebas remaja saat ini terasa lebih aktual
dibandingkan perilaku agresif.
e)
Urgen
Urgen, artinya
permasalahan yang diteliti haruslah sesuatu yang “mendesak” untuk diteliti.
Dengan kata lain jika tidak segera ditemukan “jawabannya” akan dapat
menimbulkan dampak-dampak negatif yang dapat merugikan kehidupan manusia.
Perilaku rendahnya kepatuhan membayar pajak jika tidak segera diteliti akan
menimbulkan dampak yang negatif, misalnya menurunnya penerimaan kas negara yang
berakibat pada berkurangnya APBN untuk pembangunan sarana pendidikan, kesehatan
dan lain-lain.
Rumusan masalah penelitian yang baik,
antara lain:
a.
Bersifat orisinil, belum ada atau belum banyak orang lain yang meneliti
masalah tersebut.
b.
Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan terhadap masyarakat.
c.
Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.
d.
Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah
tersebut.
e.
Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
f.
Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat
istiadat, ideologi, dan kepercayaan agama.
Supaya masalah
penelitian yang kita pilih benar-benar tepat, biasanya masalah perlu
dievaluasi. Evaluasi masalah penelitian harus berdasarkan beberapa parameter
yaitu : (1) Menarik, (2) Bermanfaat, (3) Hal Yang Baru, (4) Dapat Diuji
(Diukur), (5) Dapat Dilaksanakan,
(6)Merupakan Masalah Yang Penting, (7)Tidak Melanggar Etika.
3. Identifikasi Masalah Penelitian
Mengidentifikasi masalah bukan hal yang mudah dan bahkan mungkin dapat
dianggap sebagai sesuatu pekerjaan yang paling sulit dalam suatu proses
penelitian. Kesulitan tersebut masih bertambah karena tidak adanya formulasi
yang pasti dalam hal bagaimana mencari permasalahan penelitian. Olehnya itu
biasanya para peneliti selalu berkonsultasi dengan pembimbing atau sesama
peneliti. Kesulitan mencari permasalahan biasanya juga tergantung pada
ketajaman para peneliti itu sendiri dalam menyeleksi dan merasakan sesuatu yang
dapat dimasukkan sebagai permasalahan. Mengidentifikasi masalah-masalah
penelitian bukan sekedar mendaftar sejumlah masalah, tetapi kegiatan ini lebih
daripada itu karena masalah yang telah dipilih hendaknya memiliki signifikansi
untuk dipecahkan. Berdasarkan identifikasi terhadap masalah-masalah, maka
peneliti menentukan skala prioritas yaitu menentukan masalah-masalah mana yang
perlu segera dilakukan pemecahan.
Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa identifikasi masalah merupakan upaya untuk mengelompokkan,
mengurutkan sekaligus memetakkan masalah-masalah tersebut secara sistematis
berdasarkan keahlian bidang peneliti. Bila daftar pertanyaan telah dibuat dan
disusun sesuai urutan yang paling mendasar, maka perlu dipilih dan ditemukan
(identifikasi) masalah yang laik untuk dilakukan penelitian dan dicari
jawabannya. Laik tidaknya suatu masalah yang diteliti tergantung ketajaman dan
kemandirian ( kepekaan, kesiapan dan ketekunan) peneliti yang bersangkutan.
Identifikasi masalah perlu memperhatikan apakah masalah/ fokus yang dipilih
cukup: (1) esensial/ menduduki urutan paling penting diantara masalah-masalah
yang ada, (2) urgen/mendesak untuk dipecahkan, (3) bermanfaat bila dipecahkan.
Dalam dunia pendidikan masalah yang
ditemukan/teridentifikasi dapat dikelompokkan menjadi 5, yaitu: proses
pembelajaran, siswa, guru, hasil belajar (output) dan hasil belajar jangka
panjang (outcome). Walaupun dari proses identikasi masalah telah berhasil
ditemukan satu masalah, ternyata masih perlu mempertimbangkan beberapa hal
untuk menjadikannya sebagai fokus penelitian. Hal-hal yang perlu diperhatikan
adalah minat/motivasi/dorongan peneliti, kemampuan peneliti, lokasi penelitian,
sumber data (populasi dan sampel), waktu, pendekatan/metode yang digunakan,
buku sumber yang tersedia, etika dan birokrasi. Bila kesemua hal tersebut telah
terpenuhi maka suatu fokus masalah dapat dijadikan sebagai masalah penelitian
untuk dicari jawabannya.
4. Analisis Masalah Penelitian
Secara garis besar, ada
beberapa bentuk analisis yang perlu diperhatikan :
a.
Analisis Substansi Masalah
Analisis substansi
masalah itu sendiri. Masalah yang dipilih memiliki relevansi akademik dalam
arti termasuk bidang keilmuan apa; misalnya sosiologi, antropologi, filologi,
manajemen, teologi dan sebagainya. Dengan mengetahui kedudukan masalah dalam
konteks keilmuan yang ada, peneliti dapat menelusuri dan mendalami permasalahan
itu dan menempatkannya dalam pokok bahasan atau sub pokok bahasan bidang ilmu
tersebut. Dengan cara ini peneliti dengan mantap memiliki pangkal tolak dan
sudut pandang keilmuan yang ada.
b.
Analisis Teori Dan Metode
Peneliti hendaknya
senantiasa menyadari bahwa perumusan masalah dalam penelitiannya didasarkan
atas upaya menemukan teori dari dasar sebagai acuan utama. Oleh karena itu,
setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam
memecahkan atau menyoroti masalahnya. Maka, perlu disusun kerangka teori yang
memuat pokok-pokok pikiran untuk memberikan gambaran atau batasan-batasan tentang
teori-teori yang akan dipakai sebagai landasan penelitian yang akan digunakan. Uraian
dalam menganalisis teori merupakan hasil berpikir rasional yang dituangkan
secara tertulis meliputi aspek-aspek yang terdapat di dalam masalah atau sub
masalah yang akan diteliti. Masalah yang diteliti hendaknya dapat dicari
rujukan kepustakaan, perspektif teoritik dan metodenya. Dengan pertimbangan ini
dapat ditelusuri kajian kepustakaan baik berupa buku jurnal maupun hasil
penelitian terdahulu, penelitian semakin tajam dan terarah dalam memfokuskan
penelitiannya. Perspektif teoritik bermanfaat bagi peneliti agar penelitian
yang dilakukan memiliki starting point dan point of view yang jelas sehingga
peneliti akan semakin peka dan kritis dalam mencermati setiap fenomena.
c.
Analis Institusional
Jenis, bobot dan tujuan
penelitian hendaknya disesuaikan dengan institusi mana peneliti
memperpersembahkan penelitiannya. Penelitian untuk persyaratan memperoleh gelar
akademik tentu berbeda dengan penelitian pesanan atau penelitian tindakan
(action research). Penelitian untuk skripsi tentu memiliki kulalifikasi yang
berbeda dengan tesis atau disertasi. Perbedaan bisa terletak pada substansinya,
seperti kedalaman, keluasan, keaslian, kejelasan, keutuhan masalah yang
diangkat; atau pada metodologinya seperti perspektif teoritik dan analisisnya;
maupun pada teknik penulisan atau pelaporannya.
d.
Analisis Metodologis
Masalah yang diangkat
hendaknya terjangkau, baik dari aspek metode pengumpulan data maupun datanya
itu sendiri. Penelitian yang melibatkan para elite biasanya lebih sulit
dilakukan daripada masyarakat awam, maupun agama, lebih sedikit jumlahnya.
Penelitian tentang keuangan biasanya juga lebih sedikit karena datanya sulit
dicari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar